Kamis, 22 November 2012

Beberapa Istilah Penting dalam urusan Hadits dan Ushululfiqh




HADITS dan A-TSAR
Asal arti Hadits adalah perkataan atau ucapan. Terutama untuk perkataan Nabi saw. Jika disebut Hadits Nabi, maka maksudnya adalah sabda Nabi saw. Terkadang disebut Hadits Anas, misalnya. Maksudnya ialah Hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Anas. Adakalanya disebut Hadits Bukhari, maka maksudnya adalah Hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari di dalam kitabnya. Lafazh Hadits yang diucapkan oleh Nabi saw. itu, dinamakan matan Hadits atau isi Hadits.

A-tsar adalah perkataan sahabat, sebagaimana Hadits adalah perkataan Nabi saw. kadang-kadang perkataan sahabat disebut riwayat.

GAMBARAN SANAD
Sabda Rasulullah saw. didengar oleh sahabat, seorang atau lebih. Mereka ini kemudian menyampaikannya kepada tabi’in (generasi setelah sahabat), seorang atau lebih. Tabi’in menyampaikannya kepada orang-orang di bawah mereka. Demikianlah seterusnya hingga dicatat Hadits-Hadits Nabi saw. oleh Imam-Imam ahli Hadits, seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lainnya.

Saat meriwayatkan Hadits Nabi saw., Imam Bukhari misalnya, berkata bahwa Hadits ini diucapkan kepada saya oleh seorang bernama A; dan A berkata, diucapkan kepada saya oleh B; dan B berkata, diucapkan kepada saya oleh C; dan C berkata, diucapkan kepada saya oleh D; dan D berkata, diucapkan kepada saya oleh E; dan E berkata, diucapkan kepada saya oleh F; dan F berkata, diucapkan kepada saya oleh G; dan G berkata, diucapkan kepada saya oleh Nabi saw.

Menurut contoh ini, antara Nabi saw. dan Imam Bukhari ada 7 orang. Dan bilangan 7 tidak mutlak, bisa lebih atau kurang dari 7 orang.

RAWI, SANAD, dan MUDAWWIN
Tiap-tiap orang dari A sampai G pada contoh di atas, dinamakan rawi, yaitu yang meriwayat-kan; dan sejumlah rawi bagi sebuah Hadits disebut sanad, yaitu sandaran, jembatan, titian atau jalam yang menyampaikan sesuatu Hadits kepada kita. Sanad kadang-kadang disebut juga dengan isnad. Isnad juga berarti mengadakan atau menunjukkan sanad untuk sebuah Hadits.

Mudawwin, berarti pembuku, pencatat, pendaftar, yaitu orang ‘alim yang mencatat Hadits Rasulullah saw. seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lainnya.

SHAHABI dan TABI-‘I
G yang mendengar Hadits dari Nabi saw., seperti contoh di atas, ialah seorang sahabi, dan F yang tidak berjumpa dengan Nabi saw., tetapi mendengar Hadits dari sahabi di sebut dengan tabi’i

AWAL SANAD DAN AKHIRNYA
Sanad menurut istilah Ahli Hadits ada awal dan ada akhirnya, yaitu ada permulaan sanad dan ada kesudahan sanad. Yang dimaksud dengan awal sanad adalah A dan akhir sanad adalah G dalam contoh di atas. Jadi rawi seperti Imam Bukhari misalnya, atau orang yang menyampaikan kepada Imam Bukhari dinamakan awal sanad, dan shahabi atau tabi’i dinamakan akhir sanad.

SIFAT-SIFAT RAWI
Tiap-tiap rawi Hadits harus mempunyai sifat-sifat berikut ini:
1. Tidak terkenal sebagai pendusta
2. Tidak dituduh sebagai pendusta
3. Tidak banyak salahnya
4. Tidak kurang telitinya
5. Tidak fasiq
6. Tidak ragu-ragu
7. Tidak ahli bid’ah
8. Tidak kurang kuat hafalannya
9. Tidak sering menyalahi rawi-rawi yang kuat
10. Tidak asing (rawi yang terkenal adalah seorang yang dikenal oleh dua orang ahli hadits di zamannya)


BAGAIMANA MENGETAHUI SIFAT-SIFAT RAWI?
Tiap-tiap rawi hendaknya dikenal oleh dua orang ahli Hadits atau lebih di zamannya masing-masing. Sifat masing-masing rawi pun hendaknya diterangkan oleh ahli Hadits pada masanya. Semua rawi-rawi Hadits dari zaman Nabi saw. hingga masa dicatatnya Hadits tersebut oleh para Imam ahli Hadits di kitab-kitab mereka, sudah disebut di dalam kitab-kitab Hadits oleh ulama Hadits dari zaman sahabat, tabi’in dan seterusnya ke bawah berupa sifat-sifatnya, tanggal lahir dan wafatnya, Hadits yang sudah diriwayatkan, dan lainnya untuk di ketahui oleh orang-orang di belakang mereka. Tidak seorang pun dari rawi-rawi Hadits luput dari catatan ulama Hadits.

Rawi yang tidak ada catatannya, dinamakan maj-hul -tidak terkenal- rawi yang tidak terkenal, tidak diterima Hadits yang diriwayatkanya.

MARFU’
Satu Hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh seorang rawi kepada rawi lainnya sampai kepada ‘ulama mudawwin, seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lainnya dinamakan Hadits Marfu’; yaitu Hadits yang riwayat-nya sampai kepada Nabi saw.

MAUSHUL
Hadits yang sanadnya sampai kepada Nabi saw. dengan tidak putus, dinamakan Maushul atau Mut-tashilus-sanad, yaitu yang disambung sanadnya atau tidak putus sanadnya. Perkataan Maushul ini dipakai juga untuk riwayat atau a-tsar sahabat atau tabi’in yang tidak putus.

MAUQUF
Fatwa sahabat atau anggapan sahabat sendiri yang diriwayatkan kepada kita, dinamakan Mauquf; yaitu berhenti hanya sampai ke sahabat tidak sampai kepada Nabi saw.

Sebuah Hadits apabila sanadnya hanya sampai kepada sahabat dinamakan Hadits Mauquf.

MURSAL
Apabila seorang tabi’i yang tentunya tidak bertemu Nabi saw. berkata: Telah bersabda Nabi saw. …, maka yang ia riwayatkan itu dinamakan Hadits Mursal, yaitu langsung kepada Nabi saw. tidak melalui sahabat.

MAQTHU’
Hadits yang sanadnya sampai kepada Rasulullah saw. dinamakan Marfu’, yang hanya samapai kepada seorang shahabi dinamakan Mauquf, dan yang hanya sampai kepada seorang thabi’I atau dibawahnya dinamakan Maqthu’

MAUDLU’ dan MATRUK
Hadits yang di sanadnya ada seorang pendusta, dinamakan Maudlu’, Hadits palsu. Sedangkan Hadits yang di sanadnya ada seorang yang tertuduh sebagai pendusta, dinamakan Matruk.

HADITS MUTAWATIR, MASYHUR, ‘AZIZ, GHARIB
Hadits Mutawatir adalah hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh banyak orang, dan seterusnya kepada banyak orang sehingga tercatat dengan banyak sanad.
Hadits Masyhur adalah hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau lebih dan seterusnya sehingga tercatat sekurang-kurangnya dengan tiga sanad.
Hadits ‘Aziz, sama seperti Hadits Masyur, hanya oleh dua orang dan tercatat dengan dua sanad.
Hadits Gharib, sama dengan Hadits Masyhur, hanya oleh satu orang dan tercatat dengan satu sanad.

Dari keempat Hadits tersebut, selain Hadits Mutawatir di sebut Hadits Ahad.

HADITS QUDSI
Adalah Hadits yang didalamnya Rasulullah saw. sampaikan Firman Allah swt. begitu dan begini. Syarat syah atau tidaknya sebuah Hadits Qudsi sama dengan Hadits lainnya.

SHAHIH dan HASAN
Hadits Shahih yang boleh dipakai sebagai dalil, ialah Hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh rawi-rawi yang sifatnya tercantum dalam SIFAT-SIFAT RAWI di atas, ditambah syarat-syarat:
1. Hendaklah ada keterangan bahwa rawi A seperti contoh di atas, pernah bertemu dan menerima Hadits dari rawi B; demikian juga B dengan C; C dengan D; D dengan E; E dengan F; F dengan G; dan G dengan Nabi saw.
2. Hendaklah rawi-rawi itu semua sudah baligh dan beragama Islam.
3. Hendaklah sebuah Hadits Shahih, tidak berlawanan dengan Hadits Shahih juga yang lebih kuat daripadanya, terutama tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur’an.
4. Hendalah Hadits itu tidak ber’illat (cacat tersembunyi yang hanya diketahui oleh ahli Hadits yang Mahir).

Sedangkan Hadits Hasan adalah Hadits yang sama dengan Hadits Shahih, tetapi diantara rawi-rawinya ada orang yang ada kesalahanya di dalam urusan Hadits, ada kelalaiannya, ada keragu-raguannya, ada kurang hafalannya tetapi di dalam semua itu tidak banyak, hanya sedikit saja.

DLA’IF
Hadits yang dikatakan dari Nabi saw. tetapi tidak menurut sifat-sifat dan syarat-syarat Hadits Shahih dan tidak Hadits Hasan.

MUSNAD dan SUNAN
Musnad artinya yang bersandaran atau yang disandarkan, pada Hadits Nabi saw atau perkataan para sahabat. Tetapi bila disebutkan Musnad Imam Ahmad misalnya, adalah suatu kitab yang dikumpulkan oleh Imam Ahmad tiap-tiap Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Aisyah, Abu Hurairah dan lain-lainnya. Dan kitab ini disusun berdasarkan Bab Ibnu Abbas di mana disebutkan semua Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw; demikian juga Bab Ibnu Umar, Bab Abu Hurairah, Bab ‘Aisyah dan lain-lainnya.

Sunan adalah kitab Hadits yang disusun menurut Bab Fiqh seperti bab ‘Ibadah, Mu’amalah, Tauhid, Akhlaq dan lain-lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar