Senin, 17 Desember 2012

AQIDAH SYIAH (1 & 2)




Qum, Muharram 1417 H.

Madrasah al-Imam Amirul Mukminin

Nashir Makarim Syirazi




PROLOG

Bismillahirrahmânirrahîm

 

 

Maksud dan Tujuan Penulisan Buku

1. Dewasa ini kita tengah menyaksikan perubahan spektakuler yang berasal dari agama samawi terbesar, Islam. Umatnya telah menemukan kembali jatidirinya, setelah cukup lama tersesat dalam ideologi asing yang justeru tidak dapat menyelesaikan persoalan­-persoalan yang mereka hadapi. Tapi kini rnereka telah sadar dan kembali lagi ke Islam urrtuk menemukan solusi atas masalah­-masalah rnereka. Ya, Islam telah lahir kembali pada zaman kita ini.
Bagaimana bisa demikian? Faktor apa yang menyebabkan semua ini? Itu adalah pembahasan tersendiri. Tapi penting untuk kita ketahui bahwa dampak dari perubahan ini sangat terasa di dunia Islam, bahkan di luar dunia Islarn sekalipun. Karenanya banyak pihak yang ingin tahu, apa solusi Islam dan risaah baru apa yang dibawanya untuk masyarakat dunia?
Oleh karena itu, pada situasi yang amat sensitif seperti ini, adalah kewajiban kita untuk menjelaskan Islam apa adanya, tanpa bumbu-bumbu, dan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipa­hami oleh umum, sehingga dengan demikian, kita dapat memenuhi kehausan orang-orang yang ingin tahu lebih banyak tentang Islam dan mazhab-rnazhabnya, sementara itu pada saat yang sama, tidak memberikan kesempatan kepada orang luar untuk berbicara dan mengambil keputusan-keputusan atas nama kita.
2. Adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari bahwa - seperti juga pada agama-agama lain - terdapat berbagai aliran dalam Islam. Masing-masing memiliki kekhususannya sendiri, baik pada sisi aqidah, keyakinan, maupun pada sisi praktek keagarnaannya. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan antara aliran-aliran Islam itu tidak sampai pada tingkat yang dapat menghalangi mereka untuk melakukan kerjasama yang erat. Apalagi melalui kerjasama ini, mereka dapat memelihara eksistensi mereka dari gempuran gencar Barat dan Timur, dan pada waktu yang sama, tidak memberi peluang kepada musuh bersama mereka untuk menjalankan niat busuknya. Akan tetapi, tentu saja, untuk mewujudkan kerjasarna dan saling pengertian ini, memperkokoh dan mempereratnya, memerlukan pemenuhan beberapa syarat. Antara lain, dan ini yang paling penting, masing-masing aliran hendaknya mengenal aliran lainnya dan kekhususan-kekhususan yang ada padanya dengan baik, karena hanya dengan saling mengenal itulah banyak kesalahpahaman dapat dijernihkan, dan itu berarti membuka jalan bagi kerjasama.
Jalan terbaik untuk saling mengenal ini ialah dengan cara mempelajari ajaran setiap mazhab, baik ushûl maupun furû’, langsung dari ulama-ulama terkemuka mazhab tersebut. Sebab, jika melalui orang-orang yang tidak mengerti atau melalui pihak­pihak yang memusuhi mazhab tersebut, pasti tidak akan mencapai sasaran. Malah dapat merubah sikap saling pengertian menjadi kebencian dan permusuhan.
3. Berdasarkan dua hal di atas, maka kami mencoba menghimpun pokok-pokok ajaran Syi'ah Imamiyah, baik akidah maupun furu’ dan menuangkannya ke dalam buku kecil ini dengan karakteristik sebagai berikut:
1) Padat dan merupakan intisari dari persoalan-persoalan utama sehingga para pembaca tidak perlu repot-repot mencarinya di berbagai buku.
2) Gamblang dan jelas. Bahkan untuk menjaga agar tidak terjadi kekaburan, kami sengaja menghindarkan penggunaan istilah-istilah tehnis yang hanya dipahami kalangan ilmiah dan pusat-pusat kajian agama, hauzah, tanpa sedikitpun mengurangi kedalaman masalah yang dibahas.
3) Sekedar penjelasan ajaran, bukan bersifat argumentatif. Akan tetapi, pada masalah-masalah yang dianggap penting, sesuai dengan kapasitas yang ada pada tulisan padat semacam ini, kami juga menyertakannya dengan dalil-dalil tertentu, baik dari al-­Qur’an, Sunnah, maupun akal.
4) Jauh dari basa-basi, diplomasi, dan vonis awal, sehingga apa yang dikemukakan itulah adanya.
5) Memelihara kesopanan dan etika penulisan terhadap semua mazhab pada semua kajiannya.
Terakhir, kitab kecil ini, dengan karakteristik di atas, disusun pada saat pelaksanaan haji, di mana hati dan jiwa seseorang biasanya lebih bersih dan lebih tulus, kemudian dilan­jutkan dengan diskusi-diskusi mendalam bersama sejumlah ahli, sehingga akhirnya dapat disempurnakan dengan izin Allah SWT. Harapan kami, kiranya maksud dan tujuan seperti yang telah kami utarakan di atas dapat tercapai serta merupakan tabungan kami di akhirat nanti.
رَبَّنّا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِيْ لِلإِيْمَانِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ
Tuhan kami! Kami telah mendengar peryeru yang menyeru kepada keaimanan: "Hendaklah kamu beriman kepada Tuhanmu'; maka kami beriman. Tuhan kami! Ampunilah kami atau dosa-dosa kami, hapuskanlah keburukan-keburukan kami dari diri kami, dan wafatkanlah kami bersama abrâr, orang-orang saleh. (QS, Âli ‘Imrân: 193)

Qum, Muharram 1417 H.

Madrasah al-Imam Amirul Mukminin

Nashir Makarim Syirazi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I
MA’RIFATULLAH DAN TAUHID


1. Adanya Yang Mahakuasa Mahatinggi
Syi'ah meyakini bahwa Allan SWT adalah pencipta alam semesta. Keagungan ilmu dan kekuasaan-Nya tampak dengan jelas pada seluruh jagad raya, dalam diri rnanusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, bintang-bintang di langit, alam metafisik nan mahatinggi, dan di mana saja.
Syi'ah meyakini bahwa semakin kita mengamati rahasia alam semesta, maka kita akan semakin rnenyadari kebesaran, keluasan ilmu dan kekuasaan-Nya. Dan, semakin ilmu pengeta­huan manusia berkembang, maka pintu-pintu baru ilmu dan hikmah-Nya semakin terbuka bagi kita sehingga pikiran kita semakin luas. Dengan demikian, kecintaan dan kedekatan kita kepada-Nya semakin bertambah, dan kita akan diliputi oleh cahaya jalâl dan jamâl-Nya.
Allah berfirman: “Dan di bumi ada tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang yakin. Juga di diri kamu sendiri. Apakah kamu tidak melihat”. (QS. Adz-Dzâriyât 20-21)
Allah berfirman: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pada pergantian siang dan malam ada tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang berpikir, yaitu orang-orang yang mengingat Allah saat berdiri, duduk, atau berbaring, dan bertafakkur tentang penciptaan langit dan bumi. (Mereka berkata:) “Tuhan kami! Engkau tidak ciptakan ini sia-sia”. (QS. 3:190-191)

2. Sifat Jamal dan Jalal-Nya
Syi'ah meyakini bahwa Allah SWT bersih dari segala cela dan kekurangan. Ia bersifat dengan segala sifat kesempumaan. Bahkan Ia adalah kesempurnaan itu sendiri dan mutlak sempurna, mutlaq al-kamal wa kamal al-rnutlaq. Dengan kata lain, seluruh kesempurnaan dan keindahan yang ada di alam semesta ini berasal dari diri-Nya Yang Mahasuci.
“Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Mahapenguasa, Mahasuci, Mahasejahtera, Mahapemberi keamanan, Mahpemelihara, Mahaperkasa, Mahakuasa, Mahabesar, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Mahapencipta, Mahamengadakan, Mahapembentuk, bagi-Nyalah nama-nama yang baik, bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi, dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (QS. 59:23-24)
3. Dzat Yang Tak Terbatas
Syi'ah meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi: ilmu, kekuasaan, keabadian, dan sebagainya. Oleh karena itu, Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena keduanya terbaras. Tetapi pada waktu yang sama, hadir di setiap ruang dan waktu karena Dia berada di atas keduanya.
“Dan Dialah yang di langit adalah Tuhan dan di bumi juga Tuhan. Dia Mahbijaksana lagi Mahamengetahui”. (QS. 43:84)
“Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Dia Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.57:4)
Ya, memang Dia lebih dekat kepada kita dari pada kita ke­pada diri kita sendiri. Bahkan Dia ada di dalam diri kita d~ur di mana saja, tapi pada saat yang sama tidak menempati ruang.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehenya sendiri”. (QS. 50:16)
Dialah Yang Mahapertama dan Mahaterakhir. Yang Mahatampak dan Mahatersemburyi. Dia Mahamengetahui segala sesuatu. (QS.57:3)
Adapun ayat-ayat semacam “Ia adalah pemilik singgasana lagi Mahamulia” (QS. 85:1), ataupun ayat “Tuhan Yang Mahapengasih bersemayam di atas singgasana”[1] (QS. 20:5), ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sast pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)

4. Allah Bukan Jasmani dan Tidak Dapat Dilihat
Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, padahal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Oleh karena itu, meyakini bahwa Allah dapat dilihat dapat membawa kepada kemusyrikan.
Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedang Dia menjangkau penglihatan, dan Dia Mahahalus lagi Mahatahu. (QS. 6:103)
Dan ketika Bani Israil menuntut Nabi Musa as agar mereka dapat melihat Allah SWT sebagai syarat keimanan mereka dengan mengatakan; “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara langsung” (QS. 2:55), Nabi Musa membawa mereka ke bukit Tur dan menyampaikan permintaan mereka kepada Allah. Tapi malah mendapat jawaban dari Allah: “Sekali-kali engkau tidak akan melihat-Ku. Tapi lihatlah gunung itu. Jika ia masih berada di tempatnya maka engkau akan melihat-Ku. Maka tatkala Tuhannya bertajalli; menampakkan diri; bagi gunung itu, gunung itu hancur lebur dan Musa jatuh pingsan. Ketika ia siuman, ia berkata: "Mahasuci Engkau. Aku kembali pada-Mu, dan aku orang pertama yang beriman”. (QS.7:143)
Ini menunjukkan bahwa Allah mutlak tidak dapat dilihat.
Adapun adanya beberapa ayat atau pun riwayat yang menengarai adanya kemungkinan melihat Allah, maka yang dimaksud bukan rnelihat-Nya secara kasat mata, tapi melalui penglihatan batin atau mata hati, sebab al-Quran tidak saling bertentangan, tapi justeru saling rnenafsirkan, al-Qurn yufassiru ba'dhuhu ba'dhan.[2]
Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib: "Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?" Amirul Mukminin menjawab, "Bagaimana aku bisa menyem­bah Tuhan yang tidak kulihat?" Tapi buru-bur Amirul Mukminin menyempurnakan kalimatnya, "Tapi Dia tidak dapat dilihat oleh mata. Dia hanya dapat dijangkau oleh kekuatan hati yang penuh dengan iman". (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)
Syi'ah meyakini bahwa memberikan sifat-sifat makhluk kepada Allah seperti ruang, arah, fisik, atau dapat dilihat akan membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah dan dapat rnem­bawa kepada kemusyrikan
Mahasuci Allah dari sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya Ia tidak serupa dengan apa pun.

5. Tauhid Adalah Jiwa Ajaran Islam
Syi'ah meyakini bahwa di antara persoalan-persoalan paling penting dalam kaitannya dengan ma'rifUtulhah atau menge­nal Allah ialah pengetahuan akan tauhid dan keesaaan Tuhan. Tauhid tidak hanya merupakan salah satu prinsip agama, tapi ia adalah ruh dan jiwa seluruh ajaran Islam, baik pokok-pokok ajarannya (ushuluddin) maupun cabang-cabangnya (furu’) meng­kristal dalam tauhid. Seluruhnya dikaitkan dengan tauhid dan keesaan. Keesaan Dzat Yang Mahasuci, keesaan sifat-sifat dan perbuatan-Nya, bahkan keesaam (baca: kesatuan) misi para nabi, agama Ilahi, kiblat, kitab, hukurn, dan peraturan hukum bagi seluruh umat manusia. Demikian pula persatuan Muslimin dan satunya hari kebangkitan.
Oleh karena itulah, maka setiap penyimpangan dari tauhid dan kecondongan ke syirk dianggap oleh al-Quran sebagai dosa yang tak terampuni. “Sesungguhrrya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, tapi mengarrpuni selain itu, bagi yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa meryekutukan Allah sungguh telah melakukan dasa besar. (QS. 4:48) Dan “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-­orang sebelummu bahwa jika engkau menyekutukan Tuhan niscaya amalmu akan terhapus dan masuk dalam golongan orang-orang rugi”. (QS. 39:65)

6. Sub-Tauhid
Syi'ah meyakini bahwa tauhid memiliki balgian-bagian, antara lain empat hal berikut:
1) Tauhid Dzat.­
Yaitu bahwa Dzat Allah itu esa. Tidak ada yang serupa dengan-Nya. Tidak ada tandingan dan tidak ada yang menyamai-­Nya.
2) Tauhid Sifat.
Yaitu bahwa sifat-sifat seperti ilmu, kuasa, keabadian dan sebagainya rnenyatu dalam Dzat-Nya, bahkan adalah Dzat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu tidak sama dengan sifat-sifat makhluk, yang masing-masing berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya.
Hanya saja, untuk menyelami hakikat kesatuan Dzat dan sifat-sifat-Nya ini menuntut kejelian dan kedalaman berpikir.
3) Tauhid Afal atau Perbuatan
Yaitu bahwa segala perbuatan, gerak, dan wujud apapun pada alam semesta ini bersumber dari keinginan dan kehendak-­Nya.
Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu”. (QS. 39:62)
Dia memiliki kunci-kunci langit dan bumi. (QS. 42:12)
Memang tidak ada yang menentukan dalam wujud, alam semesta ini, kecuali Allah. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita (determinis). Sama sekali tidak. Kita justru bebas memilih dan memngambil keputusan.
Sesungguhnrya Kami telah memberikan petunjuk kepada manusia. Ada yang bersyukur dan ada pula yang ingkar. (QS. 76:3)
Sesungguhnya munusia tidak rrrendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diusahakannya. (QS. 53:39)
Kedua ayat di atas dengan tegas rnenjelaskan bahwa manusia bebas dalam kehendaknya (free will). Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita disandarkan kepada Allah, namun tanpa sedikitpun mengurangi tanggung­jawab kita terhadapnya.
Tuhan memang yang telah menghendaki kita bebas dalam perbuatan-perbuatan kita, karena Dia ingin menguji dan memba­wa kita ke jalan kesempurnaan. Sebab manusia tidak akan men­capai kesempurnaan kecuali dengan kebebasan berkehendak ~'ree will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri; itu karena perbuatan yang dipaksakan dan di luar kemauan sese­orang tidak menggarnbarkan apakah ia baik atau buruk.
Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan.
Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlah terpaksa) dan ridak pula tafwidh (bebas mutlak), tapi di antara keduanya.
Sesungguhnya tidak jabr dan tidak pula tafwidh, tapi di antara keduanya (Ushul al-Kafi, I, hal.160)
4) Tauhid Ibadah:
Yaitu bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah SWT semata dan tidak ada yang patut disembah kecuali Allah SWT. Sub Tauhid Ibadah ini adalah sub tauhid yang paling utama dan yang paling rnendapat perhatian para Nabi.
Sesungguhnya mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah, semata-mata taat kepada-Nya, hanif, lurus dan bersih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus. (QS. 98:5)
Dan tauhid seseorang akan semakin dalam jika ia menempuh tahapan-tahapan perjalanan kesempurnaan akhlak dan irfan sehingga ia akan mencapai suatu kedudukan atau maqam di mana hatinya hanya terpaut pada Allah swt semata, selalu mencari-Nya kapan dan di manapun, tidak memikirkan apa-apa keduali Dia, dan selalu sibuk dengan-Nya.
“Segala sesuatu yang membuatmu lupa kepada Allah ia adalah berhalamu”.
Syi'ah meyakini bahwa sub-sub tauhid tidak hanya terba­tas pada empat sub yang kami sebutkan di atas, tapi masih ada sub-sub lainnya, seperti tauhid kepemilikan (tauhid milkiyyah).
Apayang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. (QS. 2: 284) dan tauhid keputusan, tauhid hakimiyyah,
Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka sesunguhnya mereka adalah orang-orang kafir (QS. 5:44)

7. Mukjizat Para Nabi Seizin Allah
Syi’ah meyakini bahwa melalui tauhid af’al, tauhid perbuatan, akan semakin menegaskan kebenaran bahwa mukjizat para nabi dan peristiwa-peristiwa luara biasa di alam terjadi karena izin Allah Swt, sebagaimana dilansir al-Quran dalam kisah Isa as:
Dan engkau menyembuhkan penderita butasejak lahir dan penderita belang dengan izin-Ku, dan ingatlah ketika engkau menghdiupkan orang mati. (QS. 5:110)
Atau kisah salah seorang menteri Nabi Sulaiman,
Berkatalah orang yang memiliki ilmu dari al-Kitab, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihatnya sudah berada di hadapannya, ia berkata, “Ini merupakan karunia Tuhanku”. (QS. 27:40)
Dengan demikian, menisbahkan penyembuhan penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau menghidupkan orang mati kepada Nabi Isa as, dengan izin Allah, tidak bertentangan dengan tauhid, bahkan itulah tauhid itu sendiri.

8. Malaikat
Syi'ah meyakini bahwa malaikat itu ada dan masing-­masing menerima tugas khusus. Ada yang bertugas menyampai­kan wahyu kepada para nabi, mencatat amal perbuatan manusia, mencabut nyawa, membantu orang-orang beriman yang istiqamah, membantu kaum mukminin yang berada di medan perang, meng­hukum para pembangkang, dan sebagainya yang berhubungan dengan alam semesta ini. Adanya tugas-tugas malaikat itu sama sekali tidak menyalahi prinsip tauhid perbuatan, tauhid af’al, atau tauhid pemeliharaan, tarhid rububi. Malah sebaliknya, justru men­dukung tauhid, karena semuanya dengm izin Allah, kekuatan­-Nya, dan atas perintah-Nya.
Dari sini dapat kita lihat bahwa adanya syafaat para nabi, imam, dan malaikat sama sekali tidak bertentangan dengan tauhid, bahkan adalah tauhid itu sendiri, sebab terjadi seizin-Nya.
Tidak ada yang memberi syafaat kecuali setelah mendapat izin-Nya. (QS. 10: 3)
Penjelasan lebih luas tentang masalah ini dan masalah tawassul akan kami uraikan pada pembahasan kenabian.
9. Ibadah Hanya untuk Dia
Syi'ah meyakini bahwa ibadah hanya untuk Allah SWT semata, sebagaimana telah kami singgung dalam pembahasan Tauhid Ibadah. Oleh karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah, dia adalah musyrik.
Inilah pula misi para nabi, sebagaimana banyak dikutip al-­Quran dari lisan para nabi.
Sembahlah Allah semata. Kamu tidak mempunyai Tuhan selain Dia. (QS. 7:59, 65, 73, 85)
Menarik bahwa dalam shalat-shalat kita, ketika membaca surah al-Fatihah, kita selalu mengulang-ulangi perinsip ini melalui ayat:
Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. (QS. 1:5)
Dengan demikian, jelas bahwa meyakini adanya syafaat para nabi dan para malaikat atas izin Allah, sebagaimana disebut­kan dalam al-Quran, bukan merupakan perbuatan menyembah atau beribadah kepada mereka. Sama sekali tidak. Demikian pula bertawassul kepada para nabi, sama sekali tidak dapat digolongkan sebagai ibadah kepada mereka, dan sama sekali tidak bertentangan dengan tauhid perbuatan atau tauhid ibadah, sebab yang dilakukan hanyalah meminta kepada mereka agar memohon kepada Allah supaya mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Pembahasan me­ngenai ini akan diuraikan pada kajian Nubuwah.

10. Dzat Tuhan Tidak Dapat Dijangkau
Syi'ah meyakini bahwa betapapun jejak-jejak wujud Tuhan begitu banyaknya di alam semesta ini, namun tidak seorang pun yang mengetahui hakikat Allah sebenarnya atau dapat men­jangkau-Nya, sebab dzat Tuhan tak terbatas, sedangkan kita, dari sisi apa pun, terbatas dan berujung. Oleh karena itu, kita tidak dapat menjangkau-Nya, tapi Dia menjangkau segala sesuatu.
Ketahuilah! Sesungguhnya Dia menjangkau segala sesuatu. (QS. 41:54)
Dan Sesungguhnya Allah menjangkau mereka semua. (QS. 85:20)
Dalam sebuah hadis Nabi bahkan disebutkan,
Kami tidak menyembah-Mu sebenar-benarnya penyembahan dan tidak pula mengetahui-Mu sebenar-benanya pengetahuan. (Bihar al­Anwar, 68:23)
Namun ini ridak berarti bahwa ketika kita tidak dapat mengetahui hakikat Allah secara detail, berarti kita juga tidak dapat mengetahui hakikat-Nya secara umum, ilm ijmali, sehingga kita harus meninggalkan upaya kita untuk rnengenal-Nya dan cukup puas dengan melafalkan lafal-lafal yang kita sendiri tidak memahaminya. Sama sekali tidak demikian, karena hal ini dapat menghambat kita untuk mengenal Allah, sesuatu yang tidak dapat diterima oleh Syi'ah dan tidak pula diyakini, karena al-Quran dan kitab-kitab suci lainnya justeru turun untuk memperkenalkan Allah, sehingga kita dapat mengenal-Nya.
Dalam hal ini, banyak hal vang dapat dijadikan contoh, misalnya ruh. Kita tidak mengetahui apa hakikat ruh sebenarnya, tapi kita mengetahui secara umum bahwa ruh itu ada dan kita melihat tanda-tandanya.
Imam Muhammad Al-Baqir dalam salah satu haditsnya mengatakan:
Setiap kali kamu menggambarkan Tuhan dengan pikiranmu yang paling dalam sekalipun, tetap saja itu adalah makhluk dan ciptaan seperti kamu, yang dikembalikan kepadamu. (Bihar al-Anwar, 66:293)
Dalam hadits lain, dengan redaksi yang sangat indah dan jelas, Imam `Ali as telah menjelaskan cara mengenal Allah. Imam berkata:
Allah tidak memberitahu akal bagaimana cara menjangkau sifat-­sifat-Nya, tapi pada saat yang sama tidak menghalangi akal untuk mengetahui-Nya. (Nahjul-balaghah: khutbah 49)

11. Tidak Ta'thil dan Tidak Pula Tasybih
Syi'ah meyakini bahwa ta'til ma'rifatullah atau anggapan tidak ada jalan untuk mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya adalah pendirian yang keliru. Demikian pula tasybih atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Bahkan tasybih adalah perbuatan yang sesat dan syirik. Dengan kata lain, kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah SWT sama sekali tidak dapat diketahui dan jalan untuk mengenal-Nya tertutup. Demikian pula kita tidak dapat menga­takan bahwa Allah mempunyai keserupaan dengan mahkluk-Nya. Kedua jalan pikiran ini berlebih-lebihan, ifrath dan tafrith.

[1] Berdasarkan beberapa ayatal-Quran dapat dipahami bahwa “Kursi”-Nya meliputi alam materi. Firman Allah, “Kursi-Nya mencakup langit dan bumi”. (QS. 2:225)



II

KENABIAN

 

 

12. Falsafah Pengutusan Nabi

Syi'ah meyakini bahwa tujuan Allah mengutus para nabi dan rasul ialah untuk membimbing umat manusia dan menuntun mereka mencapai kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi. Seandainya para nabi itu tidak diutus maka tujuan penciptaan manusia tidak akan tercapai dan manusia akan tenggelam dalam kesesatan.
 (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa kabar gembira dan peringatan supaya manusia tidak punya alasan (atas penyimpangan-penyimpangannya) terhadap Allah sesudah diutusnya para rasul (QS. 4:165)
Syi'ah meyakini bahwa di antara para rasul itu ada "ulul-azmi" atau lima rasul pembawa syariat dan kitab suci yang baru, yaitu, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan terakhir Nabi Muhammad saw.
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian daripara nabi dan dari darimu serta Nuh, Ihrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat. (QS. 33:7)
Bersabarlah sebagaimana para rasul ului-azni bersabar. (QS. 46:35)
Syi'ah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir dan penutup para rasul. Tidak ada nabi atau rasul sesudahnya. Syanatnya ditujukan kepada seluruh umat manusia dan akan tetap eksis sampai akhir zaman, Dalam arti bahwa universalitas ajaran dan hukum Islam marnpu menjawab kebutuhan manusia sepanjang zaman, baik jasmani maupun rohani. Kemudian, siapa pun yang mengklaim dirinya sebagai nabi atau membawa risalah baru sesudah Nabi Muhammad saw, sesat dan tidak dapat diterima.
Muhammad bukan bapak siapa pun di antara kamu. Tapi ia adalah utwan Allah dan penutup para nabi. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 33:40)

13. Hidup Rukun dengan Pemeluk Agama Samawi Lain

Betapa pun Syi'ah menganggap bahwa Islam adalah satu-satunya agama resrni Ilahi saat ini, tetapi Syi'ah meyakini bahwa wajib hukumnya hidup rukun dan damai dengan perneluk agama samawi lain, apakah mereka hidup di negeri Islam atau di tempat lain, kecuali jika mereka memerangi Islam.
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dalam agama dan tidak mengusirmu dan negerimu. Sesungguhhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. 60:8)
Syi'ah meyakini bahwa melalui kajian-kajian rasional, Islam dapat dijelaskan dengan baik kepada seluruh dunia; dan melalui daya tarik Islam yang luar biasa, Syi'ah percaya bahwa jika Islam dijelaskan dengan baik, maka banyak pihak yang akan cenderung ke Islam, lebih-lebih dewasa ini, dimana banyak pihak yang tertarik pada Islam.
Oleh karena itu Syi'ah meyakini bahwa Islam tidak dapat didakwahkan secara paksa.
Tidak ada pemaksaan dalam beragama. Sesungguhnya telah jelas mana yang benar dan mana yang salah.(QS. 2:256)
Pada saat yang sama Syi'ah juga meyakini bahwa kepatuhan kaum Muslimin kepada ajarannya merupakan cara lain untuk menjelaskan Islam, sebagaimana sabda Imam Ja'far as:
Jadilah pendakwah-pendakwah tidak dengan lidahmu.
Dengan demikian tidak periu kekerasan atau pemaksaan.

14. Kemaksuman Para Nabi

Syi'ah meyakini bahwa semua nabi maksum, yakni terpelihara dan perbuatan salah, keliru, dan dosa sepanjang hidup mereka, baik sebelum masa kenabian maupun sesudahnya. Sebab jika seorang nabi melakukan kesalahan atau dosa, maka kepercayaan yang diperlukannya untuk posisi kenabian dengan sendirinya sirna dan orang tidak mempercayainya lagi sebagai penghubung mereka dengan Tuhan. Orang-orang juga tidak akanlagi menganggapnya sebagai panutan hidup mereka.
Oleh karena itu Syi'ah meyakmi bahwa adanya sejumlah ayat yang mengesankan seolah-olah sejumlah nabi pernah berbuat dosa sama sekali tidak dapat difahami dalam pengertian telah betul-betul melakukan perbuatan dosa. Tidak demikian maksud ayat-ayat tersebut. Tapi semacam tark al-awla atau perbuatan meninggalkan yang utama. Maksudnya, di antara dua perbuatan baik, nabi bersangkutan justru memilih yang manfaatnya lebih sedikit, padahal ia lebih pantas memilih yang lebih utama. Atau dengan kata lain, termasuk dalam kategori:
Perbuatan bcak untuk maqam abrar, orang-orang baik, adalah buruk untuk maqam muqarrabin, orang-orang dekat.
Karenanya setiap orang dituntut melakukan perbuatan sesuai dengan maqamnya.

15. Para Nabi Adalah Hamba-hamba Allah

Syi'ah meyakini bahwa keagungan para nabi dan rasul terletak pada keberadaan mereka sebagai hamba-hamba yang taat kepada Allah. Oleh karena itu, dalam shalat-shalat kita, kita selalu mengulang-ulangi ikrar bahwa Nabi Muhmamad saw adalah hamba Allah dan utusan-Nya:
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.
Kami meyakini bahwa tidak seorang nabi pun yang pernah mengaku sebagai tuhan atau mengajak orang lainmenyembah dirinya.
Tidak patut bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya kitab, hikmah, dan kenabian, lalu berkata kepada orang-orang: "Jadilah hamba-hambaku, bukan Allah. (QS. 3:79)
Termasuk Nabi Isa as. la tidak pernah mengajak orang agar menyembah dirinya. Malah selalu menyatakan dirinya adalah hamba dan utusan Tuhan.
Isa al-Masih tidak pernah enggan untuk menjadi hamba Allah. Demikian pula para malaikat muqarrabin, yang amat dekat dengan Allah. (QS. 4:172)
Adapun masalah trinitas, yaitu kepercayaan adanya tiga tuhan, sejarah modern Nasrani sendiri membukukan bahwa hal itu tidak pernah ada pada abad pertama Masehi, tapi baru muncul sesudah itu.

16. Mukjizat dan Pengetahuan Ghaib

Status para nabi sebagai hamba-hamba Alah tidak menghalangi mereka untuk mengetahui perkara-perkara masa lalu, sekarang, dan atau yang akan datang, dengan izin Allah.
Allah Mahamengetahui yang ghaib. Dia tidak akan memberitahukan rahasia keghaiban-Nya kepada siapa pun kecuali kepada rasul yang dipilihnya. (QS. 72:26-27)
Kita mengetahui bahwa di antara mukjizat Nabi Isa as ialah mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi:
Dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. (QS. 3:49)
Demikian juga Rasulullah saw. labanyak menginformasikan berita-berita ghaib melalui wahyu Allah:
Itu adalah berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepadamu. (QS. 12:102)
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolak bahwa para nabi dapat menginformasikan hal-hal ghaib yang diperolehnya dari wahyu dan dengan izin Allah Swt. Adapun adanya ayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw tidak memiliki pengetahuan ghaib, yaitu ayat:
Dan aku tidak mengetahui yang ghaib dan tidak pula mengatakan bahwa aku adalah malaikat. (QS. 6:50)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada dasamya Rasulullah saw memang tidak memiliki pengetahuan ghaib. Tetapi tidak berarti bahwa dia tidak memperolehnya dan Allah Swt. Karena ayat-ayat al-Quran saling menafsirkan satu sama lainnya.
Syi'ah meyakini bahwa para nabi mampu mengerjakan perkara-perkara luar biasa serta mukjizat-mukjizat besar dengan izin Allah Swt. Keyakinan ini sama sekali tidak syirik dan tidak pula bertentangan dengan status kehambaan para nabi itu. Nabi Isa as misalnya, sebagaimana diungkapkan dalam al-Quran, dengan tegas mengatakan bahwa atas izin Allah ia telah menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit kusta dan belang.
Dan aku menyembuhkan penyakit kusta dan belang dan aku menghidupkan orang mati, dengan izin Allah. (QS. 3:49)

17. Maqam Syafaat Para Nabi

Syi'ah meyakini bahwa para nabi, apalagi Nabi Muhammad saw, memiliki kewenangan memberi syafaat. Mereka akan memberi syafaat kepada golongan pendosa tertentu, tentu setelah memperoleh izin dari Allah Swt.
Tidak ada pemberi syafaat kecuali setelah mendapat izin-Nya. (QS. 10:3)
Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa seizin-Nya (QS. 2:255)
Dengan demikian, jika di beberapa ayat al-Quran terkesan ada penafian syafaat secara mutlak seperti ayat:
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dan rezeki yang telah Kami berikan kepada kamu sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada persahabatan yang akrab, dan tidak ada syafaat; dan orang-orang kafir itulah yang orang-orang yang zaim." (QS. 2:254)
Yang dimaksud bukan syafaat sebagaimana yang kita jelaskan di atas, tapi syafaat yang bersifat independen dan tanpa izin Allah, atau syafaat orang-orang yang belum mencapai tingkat kewenangan memberi syafaat. karena seperti yang kita tegaskan berkali-kali, ayat-ayat Al-Quran saling menjelaskan satu sama lain.
Syi'ah menyakini bahwa syafaatt adalah sarana yang sangat penting bagi pendidikan dan pengembalian orang-orang yang tergelincir ke jalan yang lurus, memotivasi mereka kepada kesucian dan takwa, serta menghidupkan kembali harapan di hati mereka, sebab syafaat bukan perkara tanpa aturan. Ia hanya diberikan kepada orang-orang yang memenuhi syarat untuk menerimanya, yaitu para pendosa yang dosa-dosanya tidak membuatnya putus hubungan dengan para pemberi syafaat. Dengan demikian, syafaat merupakan peringatan kepada orang-orang yang tergelincir agar tidak menutup jalan dan tetap memberikan ruang untuk kembali ke jalan yang benar agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan syafaat.

18. Tawassul

Syi'ah meyakini bahwa masalah tawassul serupa dengan masalah syafaat, yaitu bahwa orang-orang yang menghadapi berbagai problema, apakah problema duniawi atau ruhani, dapat bertawassul atau meminta kepada Allah melalui para kekasih-Nya agar problema yang mereka hadapi, dengan izin-Nya, dapat diatasi. Dengan kata lain, dan satu sisi, ia memohon langsung kepada Allah, tapi dari sisi lain, menjadikan para kekasih-Nya sebagai perantaranya.
Dan seandainya ketika mereka menzalimi diri mereka (berbuat dosa) datang kepadamu, lalu minta ampun kepada Allah dan dimintakan ampun oleh Rasul, tentulah mereka akan dapati Allah Mahapengampun lagi Mahapengasih." (QS. 4:64)
Dalam kisah Nabi Yusuf, kita melihat betapa saudara-saudara Yusuf as meminta ayahnya, Nabi Ya'qub as, bersedia menjadi perantara mereka kepada Allah seraya berkata:
Ayah, mohonkan ampunan buat kami atas dosa-dosa kami. Kami adalah orang-orang yang bersalah" (QS. 12:97)
Dan Nabi Ya'kub as pun menerima permintaan mereka dan bersedia menjadi perantara dengan mengatakan:
Aku akan mohonkan ampun buat kamu kepada Tuhanku." (QS. 12:98)
Ini adalah bukti bahwa tawassul dilakukan oleh umat terdahulu. Tapi harus diingat bahwa tawassul tidak boleh melewati atas yang diizinkan, yaitu dengan menganggap para kekasih Allah itu dapat melakukan sesuatu tanpa izin Allah, karena perbuatan demikian dapat membawa kepada kemusyrikan. Demikian pula tidak boleh dilakukan dalam bentuk ibadah kepada para kekasih Allah itu, karena perbuatan demikian syirik dan kafir; karena para kekasih Allah itu tidak dapat mendatangkan kebaikan atau keburukan tanpa izin Allah.
Katakanlah aku tidak dapat mendatangkan suatu manfaat buat diriku dan tidak pula dapat mencegah suatu mudharat dari diriku, kecuali yang dikehendaki Allah. (QS. 7:188)
Namun harus diakui terdapat sikap berlebih-lebihan pada sebagian kalangan awam di semua aliran Islam sehingga kita harus selalu membimbing dan menuntun mereka.

19. Kesatuan Da'wah Para Nabi

Syi'ah meyakini bahwa semua nabi mempunyai tujuan yang sama, yaitu membawa manusia kepada kebahagiaan yang hakiki melalui iman kepada Allah dan hari akhir, pengajaran dan pendidikan agama yang benar serta memperkokoh prinsip-prinsip akhlak. Oleh karena itu, kami menghormati semua nabi, seperti yang diajarkan al-Quran kepada kita:
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun sesama utusan-Nya" (QS. 2:285)
Namun demikian, agama-agama samawi itu berkembang secara bertahap, seiring dengan kesiapan manusia menerima ajaran-ajaran Tuhan. Semakin ke sini semakm sempurna dan semakin dalam, hingga tiba giliran agama Islam yang merupakan agama terakhir dan tersempurna.
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi Kamu. (QS.5:3)

20. Pemberitaan Nabi-Nabi Terdahulu

Kami meyakini bahwa banyak di antara para nabi terdahulu telah mengabarkan kedatangan nabi-nabi sesudahnya. Misalnya, Nabi Musa as dan Isa as telah mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw. Bahkan buku-buku mereka masih merekam hal itu hingga saat ini. Al-Quran sendiri berkata:
Mereka yang mengikuti nabi yang ummi. (QS. 7:157)
Oleh karena itu, sejarah mencatat bahwa sebelum agama Islam lahir, banyak warga Yahudi yang sengaja datang ke kota Madinah untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, karena kitab-kitab mereka mengabarkan bahwa dari kota inilah akan muncul seorang nabi yang membawa agama baru. Tapi ketika nabi yang mereka harap-harapkan itu betul-betul datang, sebagian mereka beriman kepadanya, tapi sebagian lain mengingkarinya karena kepentingan mereka terancam.


21. Para Nabi dan Perbaikan Keadaan Hidup

Syi'ah meyakini bahwa agama-agama samawi yang diturunkan kepada para nabi, terutama agama Islam, tidak hanya datang untuk memperbaiki kehidupan individu atau terbatas pada masalah-masalah maknawiyah dan akhiak saja, tapi sekaligus untuk rnemperbaiki dan menyempurnakan seluruh aspek kehidupan sosial. Bahkan banyak di antara pranata ilmu dan pengetahuan moderen yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan dewasa ini justeru di.peroleh dari para nabi, sebagaimana yang diisyaratkan al-Quran pada beberapa ayatnya.
Syi'ah juga meyakini bahwa di antara tujuan utama para nabi ialah tegaknya keadilan sosial dalam masyarakat manusia.
Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-kitab dan al-mizan agar mereka dapat menegakkan keadilan dalam mayarakat. (QS. 57:25)

22. Menolak Rasialisme

Syi'ah meyakini bahwa para nabi, terutarna nabi terakhir, Muharnmad saw, menolak dengan keras segala bentuk rasialisme, apakah berdasarkan darah atau warna kulit. Dalam pandangan para nabi itu, semua umat manusia, dari suku, bahasa, dan ras apapun adalah sama. Al-Quran menyeru semua kelompok manusia dengan firman-Nya:
Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu hersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungsuhnya orang yang paling mulia di sisi Aliah adalah yang paling bertaqwa. (QS. 49: 13)
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa ketika Nabi saw berada di Mina, saat menunaikan ibadah haji, la berseru kepada orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya:
Hai sekalian manusial Sesungguhnya Tuhan kamu satu dan nenek moyang kamu juga satu. Ketahuilah! Tidak ada kelebihan bangsa Arab atas Ajam atau Ajam atas Arab. Tidak ada kelebihan berkulit hitam atas berkulit merah atau berkulit merah atas berkulit hitam. Mereka semua sama, kecuali dengan taqwa. Nabi berkata: "Bukankah telah kusampaikan?" Mereka menjawab: "Ya". Nabi kemudian melanjutkan: ''Pesan ini harus disampaikan oleh orang-orang yang hadir di sini kepada mereka yang tidak hadir. (Tafsir al Qurtubi, 9 : h 162)

23. Islam dan Fitrah Manusia

Syi'ah meyakini bahwa secara fitrah, di dasar hati yang paling dalam, setiap manusia memiliki bibit-bibit keimanan kepada Allah, tauhid, dan pokok-pokok ajaran para nabi. Para nabi kemudian menyirami bibit-bibit yang ada itu dengan air wahyu Ilahi dan menjauhkannya dari hama-hama kemusyirkari dan penyimpangan.
la merupakan fitrah Allah yang telah difitrahkannya pada manusia. Sesungguhnya tidak dda perubahan pada dptaan Allah. Dan itu adalah agama yang lurus, tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui. (QS. 30:30)
Oleh karena itu, agama selalu menyertai manusia sepanjang sejarah. Ada pun sikap tidak beragama praktis sangat jarang terjadi dan merupakan pengecualian, demikian tegas sejarawan. Terbukti bahwa bangsa-bangsa yang mendapat tekanan propaganda gencar agar meninggalkan agama, begitu mendapatkan kebebasan, segera kembali ke agamanya.
Tapi kita juga tidak dapat mengingkari bahwa rendahnya tingkat intelektualitas pada banyak umat terdahulu menyebabkan tercampurnya pemikiran keagamaan mereka dengan khurafat; dan para nabi berperan besar menghilangkan khurafat-khurafat itu dari kehidupan beragama mereka.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar