Kamis, 27 Desember 2012

Kebenaran Yang Hilang (9)


Umar memberikan keputusan di dalam masalah hukum dengan tujuh puluh pendapat. Dia melarang dua mut'ah. Dia berkata, 'Ada dua mut'ah yang halal pada masa Rasulullah saw, namun sekarang saya mengharamkannya dan saya akan menghukum orang yang melakukannya.'[342]

Dia menyalahi Rasulullah saw dan sekaligus Abu Bakar, di dalam masalah pengangkatan khalifah, apakah berdasarkan penetapan atau bukan. Dia menjadikan urusan kekhilafahan di tangan enam orang. Kemudian, dia menyalahi dirinya sendirinya dengan menjadikannya berada di tangan empat orang. Selanjutnya, di tangan tiga orang. Berikutnya lagi, di tangan satu orang. Kemudian, Umar menetapkan hak pilih berada di tarigan Abdurrahman bin 'Auf. Umar berkata, 'Seandainya Ali dan Usman bersepakat, maka pendapat yang harus dipegang adalah pendapat yang dikatakan keduanya. Namun, jika suara terpecah kepada tiga suara tiga suara, maka suara yang harus dipegang adalah suara yang mana di dalamnya terdapat suara Abdurrahman bin 'Auf. Karena, Umar mengatahui bahwa Ali dan Usman tidak akan bersepakat dalam sebuah urusan, dan bahwa Abdurrahman tidak akan bersikap adil berkenaan dengan anak saudara perempuannya, yaitu Usman. Selanjutnya, Umar memerintahkan supaya memenggal kepala orang yang terlambat memberikan baiat dalam jangka tiga hari.[343]

Umar juga merobek kertas tulisan yang ada di tangan Fatimah as. Peristiwa itu terjadi pada saat terjadi perdebatan panjang antara Fatimah dan Abu Bakar, lalu Abu Bakar memutuskan untuk mengembalikan tanah fadak kepadanya. Abu Bakar membuat kertas tulisan untuknya. Lalu, Fatimah pun keluar dengan membawa kertas tulisan tersebut. Umar mendekati Fatimah, dan menanyakan apa yang terjadi. Fatimah pun menceritakan apa yang terjadi kepadanya. Mendengar itu dengar serta merta Umar mengambil kertas tulisan yang ada di tangan Fatimah dan merobeknya.[344] Melihat itu, Fatimah melaknat Umar atas perbuatannya. Lalu Ali bin Abi Thalib masuk dan mengecam Umar.

Adapun Usman bin Affan, dia membagikan kekuasaan di antara kaum kerabatnya. Dia mengangkat Walid, saudaranya seibu, sebagai gubernur Kufah. Walid, seorang laki-laki yang suka meminum minuman keras, dan dia mengerjakan salat Subuh dalam keadaan mabuk.[345] Oleh karena itu, penduduk Kufah mengusirnya.

Usman bin Affan memberikan uang yang banyak kepada masing-masing suami dari anak perempuannya yang empat. Dia memberikan kepada masing-masingnya sebanyak seratus ribu mitsgal emas, yang diambil dari baitul mal kaum Muslimin. Dia memberikan beribu-ribu dirham kepada Marwan, yang berasal dari khumus negeri-negeri Afrika.[346]

Utsman melindungi dirinya dari kaum Muslimin dan mencegah mereka untuk dapat menemuinya.[347] Banyak sekali terjadi kemunkaran yang berasal darinya yang berkenaan dengan hak-hak para sahabat. Dia memukuli Ibnu Mas'ud hingga meninggal dunia,[348] dan membakar mushafnya. Ibnu Mas'ud mengecam Usman dan mengkafirkannya.

Usman memukuli Ammar bin Yasir, sahabat Rasulullah saw, hingga patah.[349]

Dia membawa Abu Dzar dari Syam, atas permintaan Muawiyah, dan lalu memukulinya serta membuangnya ke Rabadzah.[350] Padahal, Rasulullah saw sangat dekat dengan ketiga orang tersebut.

Usman tidak hadir di tengah-tengah kaum Muslimin pada saat perang Badar, perang Uhud dan Baiat ar-Ridhwan.

Dialah yang menjadi peyebab Muawiyah memerangi Ali as di dalam masalah kekhilafahan. Tahap berikutnya, Bani Umayyah melaknat Ali as di atas mimbar. Mereka meracuni Hasan, dan membunuh Husain.[351] Selanjutnya, urusan berpindah kepada Hajjaj. Dia membunuh sebanyak dua belas ribu orang dari keluarga Rasulullah saw. Yang menjadi penyebab semua ini ialah, karena mereka menjadikan masalah keimamahan berdasarkan pemilihan dan kehendak mereka. Jika sekiranya mereka mengikuti nas di dalam masalah ini, dan Umar tidak membangkang Rasulullah saw manakala beliau berkata, 'Ambilkan aku pena dan kertas, supaya aku tuliskan bagimu sebuah tulisan yang dengannya kamu tidak akan tersesat sesudahnya', tentu tidak akan terjadi perselisihan dan kesesatan ini."

Yohanes berkata, "Wahai para ulama agama, mereka yang dinamakan dengan kelompok Rafidhah, inilah keyakinan mereka, sebagaimana yang telah kita sebutkan. Adapun keyakinan Anda adalah ini, sebagaimana yang telah kita nyatakan. Anda telah mendengarkan dalil-dalil mereka, dan demikian juga Anda telah mengemukakan dalil-dalil Anda.

Demi Allah, mana di antara dua kelompok ini yang paling benar menurut pandangan Anda?"

Mereka menjawab dengan serentak, "Demi Allah, sesungguhnya kelompok Rafidhah lah yang berada di atas kebenaran. Perkataan-perkataan merekalah yang benar. Namun, keadaan masih seperti se-bagaimana yang sekarang terjadi. Kelompok kebenaran masih sebagai kelompok yang terkalahkan. Saksikanlah oleh Anda, wahai Yohanes, sesungguhnya mulai sekarang kami berpegang kepada kepemimpinan keluarga Muhammad, dan berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Hanya saja kami meminta kepada Anda untuk menyembunyikan urusan kami ini. Karena manusia masih berpegang kepada agama raja mereka.

Yohanes melanjutkan ceritanya, "Maka saya pun berdiri dari hadapan mereka, dalam keadaan benar-benar yakin dan berpegang kepada keyakinan saya. Segala puji bagi Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, maka dialah orang yang mendapat petunjuk.

Kemudian, saya menuliskan tulisan ini dengan tujuan agar dia menjadi petunjuk bagi orang yang mencari jalan keselamatan. Barangsiapa yang membacanya dengan penuh kesadaran, dia akan terbimbing kepada jalan kebenaran, dan akan mendapat pahala. Barangsiapa yang mengunci hati dan lisannya, maka tidak ada jalan baginya untuk mendapat petunjuk-Nya. Allah SWT berfirman,

'Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang Ia kehendaki.' (QS. al-Qashash: 65)

Namun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang ta'assub,

'Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidakjuga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, serta penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.' (QS. al-Baqarah: 6-7)

Ya Allah, sesungguhnya kami mengucapkan puji kepada-Mu atas segala nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Kami sampaikan salawat dan salam atas Muhammad dan keluarganya yang disucikan dari segala dosa, selamanya, dan terus menerus hingga hari kiamat.●

BAB IX

Akidah Ahlus Sunnah

Sekilas Pandangan Sejarah

Kalangan Ahlus Sunnah, sebelum mereka mengorbitkan Ahmad bin Hambal pada posisi keimamahan di dalam bidang keyakinan, mereka terpecah belah ke dalam berbagai kelompok yang berbeda. Kalangan Murji'ah berpendapat, tidak ada hubungan sama sekali antara iman dan amal perbuatan. Mereka mengatakan bahwa maksiat yang dilakukan seseorang sama sekali tidak akan membahayakan imannya, sebagaimana juga ketaatan tidak memberikan manfaat sama sekali bagi kekufuran. Adapun kelompok Qadariyyah, mereka mengingkari adanya takdir. Sementara kelompok Jahami menafikan sama sekali seluruh sifat Allah SWT. Demikian juga dengan kelompok-kelompok lainnya. Mereka berbeda pendapat di dalam masalah pemikiran dan keyakinan. Hingga kemudian datanglah Ahmad bin Hambal. Dia membinasakan seluruh mazhab yang berlaku di kalangan Ahlul Hadis pada waktu itu, dan kemudian menyatukan mereka di dalam dasar-dasar keyakinan yang menjadi pilihannya. Ahmad bin Hambal mengklaim bahwa keyakinannya adalah keyakinan kalangan salaf yang saleh, yang terdiri dari kalangan sahabat dan tabi'in, Pada kenyataannya, penisbatan dasar-dasar keyakinan ini kepada Ahmad bin Hanbal jauh lebih benar dan lebih pas dibandingkan penisbatannya kepada para sahabat dan tabi'in. Karena, dasar-dasar keyakinan yang dibawa oleh Ahmad bin Hambal tidak dikenal sebelumnya, dan kalangan Ahlus Sunnah pun tidak menyepakatinya sebelum kedatangan Ahmad bin Hanbal. Perselisihan pendapat dalam masalah keyakinan di kalangan Ahlus Sunnah, yang dapat kita saksikan di dalam sejarah mereka hingga sekarang, membuka tabir tentang persoalan ini.

Keyakinan-keyakinan kalangan Hanbali tersebar luas pada masa pemerintahan Mutawakkil, yang amat dekat dengan Ahmad bin Hanbal. Mutawakkil telah membukakan kesempatan yang begitu luas kepada Ahmad bin Hanbal, sehingga dia menjadi seorang imam dalam bidang keyakinan, dengan tanpa adanya pesaing. Keadaan ini terus berlangsung hingga munculnya Abul Hasan al-Asy'ari dalam bidang keyakinan, setelah sebelumnya Abul Hasan al-Asy'ari bertaubat dari paham Mu'tazilah, dan bergabung dengan keyakinan Hambali. Namun, Abul Hasan al-Asy'ari tidak merasa cukup dengan hanya bertaklid kepada Ahmad bin Hambal. Dia memberikan argumentasi-argumentasi logis terhadap keyakinan-keyakinan Hambali, sehingga dia muncul dengan keyakinan-keyakinan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan keyakinan-keyakinan Ahmad, namun tidak menentangnya. Meskipun demikian, mazhabnya yang terbilang baru ini mendapat ijin untuk di-sebarkan di seluruh negeri Islam. Akhirnya, Abul Hasan al-Asy'ari dapat merebut posisi kepemimpinan dalam bidang keyakinan dari tangan Ahmad bin Hambal. Sehingga dengan demikian, mazhab Asy'ari pun menjadi mazhab resmi Alus Sunnah. Al-Muqrizi, setelah memberi isyarat kepada dasar-dasar keyakinan mazhab Imam Asy'ari, dia mengatakan, "Inilah sejumlah pokok-pokok keyakinannya, yang menjadi pegangan mayoritas penduduk negeri-negeri Islam, yang barangsiapa dengan terang-terangan menentangnya, niscaya darahnya akan ditumpahkan."[352]

Maka berkobarlah api pertentangan di antara kalangan Asy'ariyyah dan Hanbaliyyah selama berabad-abad. Kalangan Hanbali berpegang kepada riwayat-riwayat tasybih dan tajsim, dan menetapkan Allah SWT mempunyai sifat-sifat yang tidak layak dinisbatkan kepadanya. Sementara kalangan Asy'ariyyah berlepas diri dari yang demikian itu.

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, sesungguhnya kita dapat membagi keyakinan Ahlus Sunnah ke dalam dua madrasah. Yaitu Madrasah Asy'ariyyah dan Madrasah Hanbaliyyah, setelah punahnya faham Mu'tazilah —tentunya. Pada pasal ini kita akan membahas beberapa contoh dari keyakinan kedua madrasah tersebut.

 

Madrasah Hanbaliyah (Salafiyah)

Untuk membicarakan keyakinan-keyakinan salafi, mau tidak mau kita harus membaginya kepada tiga periode sejarah, yaitu:

a. Periode Ahmad bin Hanbal.

b. Periode Ibnu Taimiyyah.

c. Periode Muhammad bin Abdul Wahhab.

a. Ahmad Bin Hanbal, Ajarannya dalam Bidang Keyakinan

Sesungguhnya pilar penyangga keyakinan di dalam ajaran Ahmad bin Hanbal dan kelompok Hanbali ialah mendengarkan (as-sima').Yaitu bersandar kepada ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi saw di dalam menetapkan keyakinan. Dan, mereka tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dalil-dalil akal, di dalam membuktikan keyakinan-keyakinan tersebut.

Mukaddimah ini sendiri memerlukan kepada pembuktian. Karena, "mendengarkan" tidak mungkin bisa dijadikan sebagai ukuran untuk mengenal keyakinan dengan tanpa akal. Hal itu dikarenakan "mendengarkan" tidak mungkin bisa menjadi hujjah yang memaksa kecuali setelah terlebih dahulu manusia beriman kepada Allah SWT. Kemudian beriman kepada Rasul-Nya saw. Selanjutnya membenarkan ucapan-ucapannya, dan merasa yakin bahwa ucapan-ucapan tersebut benar-benar keluar dari Rasul-Nya saw. Jika tiga tingkatan ini belum dicapai, maka mustahil Anda bisa memaksa seorang manusia mau menerima ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi saw. Karena jika tidak demikian niscaya akan menjadi debat kusir yang berputar mengelilingi lingkaran yang tidak ada akhirnya. Suatu hal yang sudah sangat di-kenal oleh manusia bahwa akal menolak pembuktian sesuatu dari dirinya. Karena yang demikian itu akan menuntut terjadinya dawr (lingkaran yang tidak ada akhirnya). Dan, dawr itu sesuatu yang batil, Berikut ini saya kemukakan contoh bagi Anda:

Sesungguhnya pembuktian akan adanya Allah SWT dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an, bergantung kepada keimanan dan pembenaran seseorang terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Dan, keimanan kepada ayat Al-Qur'an bergantung kepada keimanan kepada Allah SWT, sementara keimanan kepada Allah SWT bergantung kepada keimanan kepada ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan membuang beberapa kata yang diucapkan berulang, maka dapat disimpulkan bahwa keimanan kepada ayat-ayat Al-Qur'an bergantung kepada keimanan kepada ayat-ayat Al-Qur'an. Dan ini adalah sesuatu yang batil.

Selanjutnya kita bertanya, kepada siapa wahyu ini diturunkan? Apakah diturunkan kepada selain manusia

Jika wahyu ini diturunkan kepada manusia, lalu kenapa Allah SWT mengkhususkan wahyu ini bagi manusia?

Apakah karena manusia memiliki sesuatu yang sangat berharga, yaitu akal?

Jika jawabannya "ya", lalu di mana kedudukan akal?

Inilah merupakan titik tolak penyimpangan di dalam pemikiran dan keyakinan Hanbali. Mereka tidak memberikan perhatian kepada akal, dan tidak memasukannya ke dalam argumentasi-argumentasi keyakinan mereka. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah dalil tidak akan lurus kecuali jika sejalan dengan akal.

Kesalahan yang terjadi pada kelompok Hanbali, kelompok Hasyawiyyah dan kelompok Asy'ariyyah ialah mereka tidak mengenal akal. Sementara tidak ada seorang pun yang dapat mengenalnya kecuali melalui jalan Madrasah Ahlul Bait. Kalangan Hanbali, Hasyawi dan Asy'ari, mereka percaya terkadang akal sejalan dengan syariat namun terkadang pula bertentangan dengannya. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa akal tidak memiliki nilai hujjah. Kalaupun akal memiliki sedikit nilai hujjah, maka itu semata-mata dia mendapatkannya dari syariat.

Pandangan ekstrim ini, tidak lain hanya merupakan reaksi dari ajaran Mu'tazilah, yang mengatakan bahwa kehujjahan akal itu bersifat zat, dan bahwa dalil sam'i yang tidak sejalan dengan akal tidak mempunyai harga. Sebagaimana Anda ketahui, kelompok Mu'tazilah telah melarang manusia memegang keyakinan jabariyyah pada masa Khalifah Makmun, Mu'tashim dan Watsiq, dikarenakan ketiga Khalifah tersebut menerima ajaran mereka. Para Ahlul Hadis mendapat cobaan yang berat, terutama dengan berbagai macam bentuk siksaan. Hal inilah yang menyebabkan mereka mempunyai sikap yang khusus terhadap ajaran yang berlandaskan akal. Karena jika tidak, lantas alasan apa yang menjadikan mereka sedemikian membenci akal, dan sedemikian jumud di dalam menyikapi zahir nas?! Kekerasan yang terjadi di antara Mu'tazilah dan Hanbali, telah menghancurkan cara-cara yang dapat menjadikan mereka untuk bisa saling memahami antara satu sama lain, sehingga dapat sampai kepada titik-titik persamaan di antara mereka. Masing-masing dari mereka bersikeras dengan ajarannya. Tidak mungkin masalah substansial yang menjadi dasar bagi pemahaman dan keyakinan agama ini dapat diselesaikan kecuali dengan ditemukannya ukuran yang baku, yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Dua orang penulis, yaitu Hana al-Fakhuri dan Khalil al-Bahr menukilkan, "Terdapat dua macam argumentasi: Argumentasi akal. Yaitu argumentasi yang tidak bersandar kecuali kepada akal dan kaidah-kaidahnya. Sedangkan argumentasi sam'i adalah argumentasi yang bersandar kepada Al-Qur'an, hadis dan ijma'. Anda dapat saksikan, kelompok Mu'tazilah tidak mengakui selain dari argumentasi yang pertama (argumentasi akal). Mereka mengatakan bahwa seluruh argumentasi sam'i yang tidak ditopang oleh akal tertolak. Sementara kalangan mutakallim, yang diketuai oleh kelompok Asy'ariyyah mengatakan bahwa argumentasi akal tidak mempunyai nilai kecuali jika syariat memerintahkannya. Dengan kata lain, pada zatnya itu sendiri akal tidak mempunyai nilai, melainkan hanya semata-mata yang dia ambil dari syariat.[353]

Lihatlah kontradiksi yang sedemikian tajam antara pandangan-pandangan ini. Satu kelompok tidak mengakui nilai akal dan sekaligus kehujjahannya, sementara kelompok yang lain tidak mengakui nilai sesuatu yang lain selain dari akal.

Perbedaan sistem inilah yang menjadi penyebab terpecah belahnya kaum Muslimin dan terkotak-kotaknya mereka ke dalam berbagai mazhab. Oleh karena sistem yang dijadikan sandaran berbeda, maka berbeda pula kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh. Jika terbersit pemikiran untuk mengembalikan persatuan kaum Muslimin, maka mau tidak mau harus dimulai dengan langkah memepersatukan kaidah-kaidah pemikiran dan menetapkan jalan-jalan argumentasi. Sebagai contoh, cobalah perhatikan perselisihan yang bersumber dari perbedaan di dalam dasar-dasar pemikiran berikut. Di dalam masalah perbuatan hamba, kalangan Mu'tazilah mengatakan, sesungguhnya manusia itulah yang menciptakan perbuatannya. Karena jika tidak, maka itu berarti bertentangan dengan akal berdasarkan persangkaan mereka. Oleh karena itu, mereka pun mencampakkan seluruh riwayat yang menyalahi makna ini. Sebagai kebalikannya, kita mendapati kelompok Hanbali berkesimpulan bahwa perbuatan manusia bukan berdasarkan kehendaknya, melainkan berdasarkan kehendak Allah SWT. Dengan demikian, dalam pandangan kelompok Hanbali, manusia itu terpaksa di dalam perbuatannya. Untuk membuktikan keyakinan yang demikian ini mereka berpegang kepada zahir ayat-ayat Al-Qur'an dan zahir hadis-hadis Nabi saw, dan tidak memberikan perhatian sama sekali kepada akal.

Ahmad bin Hanbal berkata di dalam risalahnya, "...Berzina, mencuri, meminum minuman keras, membunuh, memakan harta yang haram, menyekutukan Allah SWT, berbuat dosa dan maksiat, semuanya itu dikarenakan qada dan qadar dari Allah SWT."[354]

 

Riwayat-Riwayat Akan Pentingnya Akal

Jika kita melihat kepada hakikat permasalahan, niscaya kita akan mendapati baik Asy'ariyyah, Hanbaliyyah dan Mu'tazilah, semuanya tidak mengetahui hakikat akal. Untuk bisa mengenal hakikat ini, maka mau tidak mau —pertama-tama— kita harus membaca beberapa riwayat Ahlul Bait, supaya kita dapat memahami pentingnya akal dan kedu-dukannya yang begitu tinggi.

Dari Abu Ja'far, Imam Muhammad al-Baqir yang berkata, "Ketika Allah menciptakan akal, Allah berkata kepadanya, 'Menghadaplah', maka akal pun menghadap. Kemudian, Allah berkata lagi kepadanya, 'Berbaliklah', maka akal pun berbalik. Lalu Allah berkata, 'Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak menciptakan suatu makhluk yang lebih bagus dari engkau. Denganmu Aku memerintah dan denganmu Aku melarang. Denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku memberi siksa.'"[355]

Di dalam wasiat Imam Musa bin Ja'far kepada Hisyam bin Hakam, yang merupakan sebuah hadis yang panjang, disebutkan,

"Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kabar gembira kepada orang yang berakal dan memiliki pemahaman di dalam Kitab-Nya. Allah SWT berfirman, 'Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan, dan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.' (QS. az-Zumar: 18)

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah SWT telah menyempurnakan hujjah bagi manusia dengan akal, dan telah menolong para nabi dengan keterangan, serta telah menunjukkan mereka kepada rububiyyah-Nya dengan dalil. Allah SWT berfirman, 'Dan Tuhanmu adalahTuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.' (QS. al-Baqarah: 163-164)

Wahai Hisyam, Allah SWT telah menjadikan semuanya itu sebagai petunjuk atas makrifat-Nya, karena sesungguhnya mereka mempunyai pengatur. Allah SWT berfirman, 'Dan Dia menundukan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan binatang-binatang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya.' (QS. an-Nahl: 12)

Allah SWT juga berfirman, 'Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa dewasa, kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami lakukan itu) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya.' (QS. al-Mu'min: 67)

Allah SWT juga berfirman, 'Dan pada pergantian malam dan siang, serta hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupkannya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, serta pada perkisaran angin, terdapat pula tanda-tanda (kekuaan Allah) bagi kaum yang berakal.' (QS. al-Jatsiyah: 5)

Allah SWT berfirman, 'Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.' (QS. al-Hadid: 17)

Allah SWT juga berfirman, 'Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan airyang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.' (QS. ar-Ra'd: 4)

Allah SWT berfirman, 'Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.' (QS. ar-Rum: 24)

Allah SWTjugaberfirman, 'Katakanlah, 'Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak katnu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (kamu membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya.' (QS. al-An'am: 151)

Allah SWT berfirman, 'Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.' (QS. ar-Rum: 28)

Wahai Hisyam, kemudian Dia menasihati orang yang berakal, dan membujuk mereka dengan akhirat. Allah SWT berfirman, 'Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?' (QS. al-An'am: 32)

Wahai Hisyam, kemudian Allah memperingatkan orang-orang yang tidak berakal dari siksa-Nya. Allah SWT berfirman, 'Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka diwaktu pagi.' (QS. ash-Shaffat: 136 - 137)

Allah SWT juga berfirman, 'Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari padanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.' (QS. al-'Ankabut: 34-35)

Wahai Hisyam, sesungguhnya akal bersama ilmu. Allah SWT berfirman, 'Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.' (QS. al-'Ankabut: 43)

Wahai Hisyam, kemudian Allah SWT mencela orang yang tidak berakal. Allah SWT berfirman, 'Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'lkutilah apa yang telah diturunkan Allah', mereka menjawab, 'Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.' (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?' (QS. al-Baqarah: 170)

Allah SWT juga berfirman, 'Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggi Ibinatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.' (QS. al-Baqarah: 171)

Allah SWT berfirman, 'Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti.' (QS. Yunus: 42)

Allah SWT juga berfirman, 'Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).' (QS. al-Furqan: 44)

Allah SWT berflrman, 'Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.' (QS. al-Hasyr: 14)

Allah SWT juga berfirman, 'Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri kamu sendiri padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?' (QS. al-Baqarah: 44)

Wahai Hisyam, kemudian Allah SWT mencela kelompok yang banyak. Allah SWT berfirman, 'Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.' (QS. al-An'am: 116)

Allah SWT juga berfirman, 'Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah. 'Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah'; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.' (QS. Luqman: 25)

Berikutnya, Allah SWT berfirman, 'Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.'Katakanlah, 'Segala Puji bagi Allah', tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.' (QS. al-'Ankabut: 63)

Wahai Hisyam, selanjutnya Allah SWT memuji kelompok yang sedikit. Allah SWT berfirman, 'Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.' (QS. Saba: 13)

Allah SWT juga berfirman, 'Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.' (QS. Shad: 24)

Allah SWT berfirman, "Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, Tuhanku ialah Allah.'" (QS. al-Mu'muin: 28)

Selanjutnya Allah SWT berfirman, 'Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.'

Allah SWT berfirman, 'Kebanyakan mereka tidak memahami.' Pada ayat yang lain Allah berfirman, 'Kebanyakan mereka tidak merasa.'

Wahai Hisyam, Allah menyebut orang-orang yang berakal dengan sebagus-bagusnya sebutan dan menghiasi mereka dengan sebagus-bagusnya hiasan. Allah SWT berfirman, 'Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.' (QS. al-Baqarah: 269)

Allah SWT juga berfirman, 'Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.' (QS. Ali 'lmran: 7)

Allah SWT juga berfirman, 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.' (QS. Ali 'lmran: 190)

Allah SWT berfirman, 'Adakah orang yang mengetahui bahwa-sannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.' (QS. ar-Ra'd: 19)

Allah SWT berfirman, "(Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.' (QS. az-Zumar: 9)

Allah SWT berfirman, 'lni adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.' (QS. Shad: 29)

Selanjutnya Allah SWT berfirman, 'Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.' (QS. al-Mu'min: 53 - 54)

Allah SWT berfirman, 'Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.' (QS. adz-Dzariyat: 55)

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah berfirman di dalam Kitab-Nya, 'Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.' (QS. Qaf: 37) Yaitu yang dimaksud adalah akal.

'Dan sesungguhnya Kami telah berikan hikmah kepada Lukman.' Yaitu yang dimaksud adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Lukman telah berkata kepada anaknya, 'Tunduklah kamu kepada kebenaran, niscaya kamu menjadi manusia yang paling berakal. Sesungguhnya kecerdasan amat mudah bagi orang yang memiliki kebenaran. Wahai anakku, sesungguhnya dunia adalah lautan yang dalam. Sungguh telah banyak sesuatu yang karam di dalamnya. Maka jadikanlah ketakwaan kepada Allah sebagai perahumu, bahan bakarnya adalah iman, layarnya adalah tawakkal, nahkodanya adalah akal, kompasnya adalah ilmu, dan para penumpangnya adalah sabar.'

Wahai Hisyam, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tanda. Adapun tandanya akal adalah berpikir, dan tandanya berpikir adalah diam. Dan, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tunggangan, adapun tunggangan akal adalah tawadu. Cukup merupakan kebodohan bagimu, kamu menunggangi sesuatu yang kamu dilarang menungganginya.

Wahai Hisyam, tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya melainkan supaya mereka mengenal Allah. Sesungguhnya orang yang paling baik penerimaannya di antara mereka adalah orang yang paling baik makrifahnya, dan orang yang paling mengetahui perintah Allah di antara mereka adalah orang yang paling baik akalnya, serta orang yang paling sempurna akalnya di antara mereka adalah orang yang paling tinggi derajatnya didunia dan di akhirat.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia. Yaitu hujjah yang tampak dan hujjah yang tidak tampak. Adapun hujjah yang tampak ialah para rasul, para nabi dan para imam, sedangkan hujjah yang tidak tampak adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang rasa syukurnya tidak disibukkan oleh sesuatu yang halal, dan kesabarannya tidak dibelenggu oleh yang haram.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang memenangkan sesuatu yang tiga atas sesuatu yang tiga yang lain, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya:

Barangsiapa yang menggelapkan cahaya pikirnya dengan panjang angan-angannya, barangsiapa yang menghapus kata-kata hikmahnya dengan kata-kata sia-sianya, dan barangsiapa yang memadamkan cahaya pelajarannya dengan syahwat dirinya, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya. Dan barangsiapa yang menghancurkan akalnya maka berarti dia telah merusak agama dan dunianya.

Wahai Hisyam, bagaimana mungkin amal perbuatanmu bisa berkembang di sisi Allah, sementara hatimu lalai dari perintah-Nya, dan engkau mentaati hawa nafsumu yang hendak menguasai akalmu.

Wahai Hisyam, sabar dalam kesendirian merupakan tanda kekuatan akal. Barangsiapa yang mengenal Allah maka dia akan menyingkir dari ahli dunia dan orang orang yang mengharapkannya, serta hanya mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Allah; sementara Allah akan menjadi temannya di dalam ketakutan, menjadi sahabatnya di dalam kesendirian, akan mencukupkannya di dalam kemiskinan, dan akan melindunginya dengan tanpa bantuan keluarga besar.

Wahai Hisyam, kebenaran ditegakkan untuk mentaati Allah, dan tidak ada keselamatan kecuali dengan ketaatan. Ketaatan itu ditegakkan dengan ilmu, ilmu itu dengan belajar, dan belajar itu dengan akal. Selanjutnya, tidak ada ilmu kecuali dari 'alim rabbani, dan mengetahui ilmu itu dengan akal

Wahai Hisyam, amal yang sedikit dari orang yang berilmu diterima dengan berlipat ganda, sementara amal yang banyak dari orang yang memperturuti hawa nafsu dan orang yang bodoh ditolak.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal rida bersama hikmah dengan tanpa dunia, namun tidak rida bersama dunia dengan tanpa hikmah, maka oleh karena itu perniagaan mereka beruntung.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal meninggalkan dunia yang berlebihan, apalagi dengan dosa. Mereka meninggalkan dunia sebagai sesuatu yang utama, dan meninggalkan dosa sebagai sesuatu yang wajib.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal melihat kepada dunia dan kepada ahlinya, lantas mereka mengetahui bahwa dunia tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, kemudian mereka pun melihat kepada akhirat, lalu mereka mengetahui bahwa akhirat pun tidak dapat digapai kecuali dengan kesulitan, maka mereka pun mencari salah satu yang paling kekal di antara keduanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang-orang yang berakal, mereka meninggalkan kesenangan dunia dan mengharapkan kesenangan akhkat. Karena mereka tahu bahwa dunia adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari, dan demikian juga akhirat adalah sesuatu yang mencari dan sesuatu yang dicari. Barangsiapa yang mencari akhirat, maka dunia akan mencarinya, sehingga terpenuhi rejekinya; dan barangsiapa yang mencari dunia, maka akhirat akan mencarinya, sehingga ajal menjemputnya, sehingga dengan begitu rusaklah dunia dan akhiratnya.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, kenyamanan hati dari hasud, dan keselamatan di dalam agama, maka hendaklah dia merendahkan diri kepada Allah SWT di dalam menghadapi masalahnya dengan menyempurnakan akalnya. Barangsiapa yang berakal maka dia akan merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya, dan barangsiapa yang merasa puas dengan sesuatu yang mencukupkannya maka dia telah kaya. Barangsiapa yang tidak merasa puas dengan apa yang mencukupkannya maka dia tidak akan menggapai kekayaan selamanya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah menceritakan bahwa kaum yang saleh berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakan lah kepada kami rahmat dari sisi Engkau' (QS. Ali Imran: 8), manakala mereka mengetahui hati mereka menyimpang dan kembali kepada kebutaannya.

Sesungguhnya tidak takut kepada Allah orang yang tidak mengetahui tentang Allah. Dan orang yang tidak mengetahui tentang Allah, hatinya tidak akan berdiri di atas makrifah yang kokoh, dan juga tidak akan menemukan hakikat makrifah di dalam hatinya. Tidaklah seseorang demikian kecuali orang yang ucapannya sejalan dengan perbuatannya dan batinnya sesuai dengan zahirnya.

Wahai Hisyam, Amirul Mukminin as telah berkata, Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari akal. Dan, tidaklah sempurna akal seseorang sehingga pada dirinya terdapat beberapa sifat berikut: Kekufuran dan kemusyrikan terjaga darinya, petunjuk dan kebaikan diharapkan darinya, kelebihan hartanya dikorbankan, ke-utamaan pembicaraannya terjamin, dan bagiannya dari dunia hanyalah makanan pokok. Dia tidak pernah merasa kenyang dengan ilmu selamanya. Kehinaan bersama Allah lebih dia cintai dibandingkan kemuliaan bersama selain-Nya. Ketawaduan lebih dia cintai dibandingkan kebesaran. Dia menganggap banyak sedikit kebajikan yang berasal dari orang lain, dan menganggap sedikit banyak kebajikan yang berasal dari dirinya. Dia melihat seluruh manusia lebih baik dari dirinya, sementara dia melihat dirinya sebagai manusia yang paling jelek di antara manusia yang ada.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berdusta, meski pun di dalam dusta itu terdapat kepentingannya.

Wahai Hisyam, tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki kekesatriaan, dan tidak ada kekesatriaan bagi orang yang tidak memiliki akal. Sesungguhnya manusia yang paling besar nilainya adalah orang yang tidak melihat dunia sebagai kehormatan dirinya. Ingatlah, sesungguhnya dirimu tidak mempunyai harga yang sesuai kecuali surga, maka oleh karena itu janganlah engkau menjualnya dengan selainnya.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, 'Sesungguhnya tanda orang yang berakal adalah tiga sifat berikut: Menjawab manakala ditanya, berbicara manakala orang lain sudah tidak mampu lagi bicara, dan memberikan pandangan yang menggambarkan kesalehan orang yang memiliki pandangan tersebut. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun salah satu dari ketiga sifat tersebut maka dia itu orang pandir.'

Sesungguhnya Amirul Mukminin as berkata, Tidaklah duduk di bagian depan majlis kecuali seorang laki-laki yang memiliki ketiga sifat di atas, atau salah satu darinya. Barangsiapa yang pada dirinya tidak ada satu pun dari ketiga sifat di atas, lalu dia duduk di majlis, maka dia itu orang pandir.'

Hasan bin Ali telah berkata, 'Jika engkau meminta kebutuhan maka mintalah dari pemiliknya.' Kemudian orang-orang bertanya, 'Wahai putra Rasulallah saw, siapakah pemilik kebutuhan tersebut?'

Hasan bin Ali menjawab, 'Yaitu orang-orang yang telah Allah SWT ceritakan di dalam Kitab-Nya. Allah SWT berfirman, 'Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.' (QS. az-Zumar: 39).

Hasan bin Ali berkata lebih lanjut, 'Mereka itu adalah orang-orang yang berakal.'

Ali bin Husain telah berkata, 'Duduk bersama orang-orang yang saleh akan mendorong kepada kebajikan. Bersopan santun kepada para ulama akan menambah akal. Taat kepada pemimpin yang adil merupakan puncak kemuliaan. Mengambil manfaat harta merupakan sesempurna-sempurnanya kekesatriaan. Memberi petunjuk kepada orang yang meminta nasihat merupakan pelaksanaan kewajiban nikmat. Dan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain merupakan kesempurnaan akal, yang di dalamnya terkandung kenyamanan badan, baik segera maupun lambat.'

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berbicara kepada orang yang dikhawatirkan akan mendustakannya, tidak akan meminta kepada orang yang dikhawatirkan tidak akan memberinya, tidak akan menghitung dengan sesuatu yang dia tidak mampu, dan tidak mengharapkan sesuatu yang tercela untuk diharapkan."'[356]

Di sana juga terdapat beratus-ratus riwayat yang menyingkap tentang pentingnya akal dan kedudukannya yang tinggi di dalam madrasah Ahlul Bait. Akal adalah cahaya Ilahi, yang dengannya manusia mampu menyingkap hakikat sesuatu. Dengan demikian, dia merupakan pemberian Ilahi, dan bukan merupakan sesuatu yang bersifat substantif (dzati) di dalam diri manusia, yang berubah bersama dirinya dari kondisi potensial (bi al-quwwah) kepada kondisi riil (bi al-fi'l), sebagaimana pendapat para filosof, yang mana mereka mendefenisikan akal sebagai kemampuan yang dengannya manusia mampu menghasilkan teori (nazhariyyah) dari sesuatu yang tidak memerlukan pemikiran (dharuriyyah), seperti mustahilnya berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan, dan bahwa segala sesuatu yang berubah itu adalah hadits (baru). Dalam pandangan mereka, manakala seorang manusia telah mampu menghasilkan hal-hal yang nazhari dari hal-hal yang dharuri, maka manusia tersebut telah sampai kepada batas akal, yang merupakan salah satu peringkat dari peringkat-peringkat nafs. Manakala peringkat-peringkat itu telah sempurna maka menjadi akal. Kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dinamakan ma'gulat, setelah sampai kepada dharuriyyah, meskipun dengan melalui dua puluh perantara (wasithah). Mereka mencampur adukkan antara akal dengan ma'qul dan antara ilmu dengan ma'lum (objek ilmu). Mereka disibukkan dengan ma 'lum dan ma 'qul, sehingga mereka tersesat dari cahaya yang dengannya mereka dapat mengetahui dan memahami sesuatu. Sungguh ini merupakan kesesatan yang jauh. Kita dapat melihat dengan nurani kita bahwa cahaya yang dengannya kita dapat mengetahui hakikat sesuatu ini, adalah sesuatu yang berada di luar zat kita dan zat ma'lum. Dia tidak lain merupakan pemberian Ilahi, yang dengannya kita dapat mengetahui diri kita dan dapat menyingkap hakikat sesuatu. Karena jika tidak demikian, lalu ke mana akal ini pada masa kanak-kanak kita. Sekiranya akal tersebut bersifat zati bagi diri kita, tentu dia tidak akan pernah berpisah dari diri kita. Karena, sesuatu yang zati tidak akan pernah sekali pun berpisah dari diri kita.

Allah SWT berfirman, 'Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun.'

Ayat ini mengingatkan kita akan hakikat akal dan ilmu. Keduanya tidak lain merupakan cahaya penyingkap, yang tidak seorang pun dari kita memilikinya pada saat keluar dari perut ibu, namun sekarang dia memilikinya. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa keduanya berasal dari Allah. Karena, seandainya keduanya itu berasal dari diri kita, maka tentu keduanya ada pada saat kita masih dalam usia kanak-kanak.

Rasulullah bersabda, menguatkan hakikat ini, "Manakala anak yang dilahirkan mencapai batas usia laki-laki dewasa atau wanita dewasa, maka tersingkaplah penutup, lalu masuklah cahaya ke dalam hati manusia ini, sehingga dia memahami yang wajib dan yang sunah, serta yang baik dan yang buruk. Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan akal di dalam hati tidak ubahnya seperti pelita di dalam ramah."

Dengan demikian, akal adalah cahaya Ilahi yang terjaga dari kesalahan. Demikian juga wahyu adalah cahaya Ilahi yang terjaga dari kesalahan. Sehingga dengan demikian tidak ada perselisihan di antara keduanya. Karena keduanya adalah dua cahaya yang berasal dari pelita yang sama. Allah SWT telah menjadikan cahaya yang pertama pada diri manusia, dan menjadikan cahaya yang kedua pada Al-Qur'an dan hadis. Keduanya saling menyempurnakan satu sama lainnya dan saling membenarkan.

Hubungan yang terjadi di antara akal dan wahyu adalah hubungan rangsangan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin tatkala menggambarkan tugas para nabi, "Mereka diutus untuk membangkitkan kembali akal-akal yang telah terpendam." Dengan demikian, tidak ada keterpisahan di antara akal dan wahyu. Dan oleh karena itu, ukuran yang lurus untuk menyingkap pengetahuan-pengetahuan agama adalah akal yang telah mendapat wawasan wahyu.

Masalah inilah yang telah menjadi penyebab perselisihan kaum Muslimin dan terkotak-kotaknya mereka ke dalam berbagai mazhab.

Kelompok Ahlul Hadis, mereka kaku di dalam memahami zhahir nas. Sementara kelompok Mu'tazilah, mereka bersandar kepada takwil. Adapun kelompok Asy'ariyyah, mereka berusaha menggabungkan antara ta'wil dan sikap kaku di dalam menyikapi nas. Sementara kalangan filosof, mereka membangun jalan yang bertentangan dengan jalan Allah bagi diri mereka, dan mengklaim bahwa mereka telah sampai kepada hakikat.

Oleh karena pembicaraan kita sekarang berkenaan dengan kelompok Hanbali, kita perlu kemukakan, bahwa pengingkaran mereka terhadap akal tidak ada dasarnya. Orang yang membaca kitab-kitab Hanbali, niscaya akan menemukan keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan, atau keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan akal dan fitrah manusia. Mereka mempercayai riwayat-riwayat yang menetapkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan tajsim (penjisiman Allah) bagi Allah SWT. Anda dapat melihat keyakinan-keyakinan mereka tidak banyak berbeda dengan keyakinan-keyakinan Yahudi, Nasrani dan Majusi. Oleh karena itu, muncullah di tengah-tengah mereka mazhab-mazhab yang mengakui paham tajsim, tasybih, ru'yah (Allah dapat dilihat dengan mata), jabr (manusia terpaksa di dalam perbuatannya), dan keyakinan-keyakinan lain yang berasal dari keyakinan-keyakinan Ahlul Kitab.

Ini semua disebabkan perlakuan mereka yang sewenang-wenang terhadap hadis. Mereka tidak membahas hadis dengan teliti dari segi arti dan maksudnya, dan juga tidak memperhatikan sanad-sanadnya, serta tidak membandingkannya dengan Al-Qur'an dan akal, melainkan mereka mempercayainya secara bulat-bulat.

"Taklid mereka sampai tingkat sedemikian rupa sehingga mereka mengambil makna zahir dari semua hadis mawguf, marfu' dan mawdhu' yang diriwayatkan oleh para perawi. Meski pun hadis-hadis itu aneh, janggal dan berasal dari riwayat-riwayat Israiliyyat, seperti yang di-riwayatkan oleh Ka'ab, Wahab dan lainnya, atau bertentangan dengan hal-hal yang sudah pasti (gath'iyyat), yang terhitung sebagai nas-nas agama, pemahaman inderawi, dan perkara-perkara yang sangat jelas menurut akal (yaqiniyyat). Dan mereka mengkafirkan orang-orang yang mengingkarinya, dan memfasikkan orang-orang yang menyalahinya...."[357]

Jika kita memperlakukan hadis dengan cara yang seperti ini, tentu tidaklah mustahil akidah Islam akan menjadi tawanan beribu-ribu hadis mawdhu' (palsu) dan hadis-hadis Israiliyyah, yang disisipkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam akidah Islam.

Klaim kelompok Hanbali yang mengatakan bahawa mereka berpegang kepada al-Kitab dan Sunah, serta tuduhan sesat dan kafir yang mereka lontarkan kepada kelompok di luar mereka, adalah sebuah klaim yang kosong yang tidak mempunyai dalil. Seluruh kelompok mengakui kehujjahan sunnah dan beramal dengannya, akan tetapi kelompok Hanbali, mereka meyakini seluruh yang diriwayatkan sebagai sesuatu yang berasal dari Rasulallah saw, dengan tanpa melakukan pengecekan, dengan tanpa melakukan usaha untuk memahami dan mengerti akan maksud dan artinya. Zamakhsyari berkata tentang kelompok Hanbali di dalam syairnya,

"Jika kamu bertanya tentang Ahlul Hadis

niscaya mereka menjawab, kambing jantan yang tidak memahami dan mengetahui."

Rasulullah saw telah bersabda, "Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah dia untuk menempati tempatnya di neraka." Di dalam hadis ini, dengan jelas Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa musuh-musuh agama akan menisbahkan segala sesuatu yang mendiskreditkan dirinya dan menyelewengkan akidahnya kepada dirinya. Oleh karena itu, mau tidak mau kajian ilmu hadis harus tunduk kepada metoda-metoda ilmiah dan mantiqiyyah, dan bukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok Hanbali, yang mengimani seluruh yang mereka temukan di dalam kitab-kitab hadis, baik yang logis maupun yang tidak logis, baik yang sejalan dengan Al-Qura'an maupun yang tidak sejalan.

Ahmad bin Hanbal berkata di dalam risalahnya, "Kami meriwayatkan hadis sebagaimana dia diriwayatkan, dan kami membenarkannya serta meyakini bahwa dia sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw."[358]

Seseorang berkata, "Ali bin Isa telah memberitahukan aku bahwa seorang Hanbali telah berkata, 'Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadis-hadis yang mengatakan bahwa Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam, Allah dapat dilihat, Allah meletakkan kaki-Nya, dan hadis-hadis lain yang seperti itu. Abu Abdillah menjawab, 'Kami meyakininya dan membenarkannya, serta tidak memberinya bentuk dan arti. Artinya, kami tidak menyimpangkannya dengan takwil, lalu kami mengatakan maknanya demikian. Kami tidak menolak sedikit pun darinya.'"[359]

Inilah jalan mereka di dalam memperlakukan hadis. Mereka tidak menolak sedikit pun darinya, dan membenarkan segala sesuatu yang disebutkannya. Adapun alasan yang mereka ajukan atas apa yang mereka lakukan itu amatlah lucu. Membenarkan hadis-hadis yang seperti ini adalah sama dengan membenarkan paham tajsim dan tasybih. Sebagian dari mereka telah bertindak ekstrim, yaitu dari kelompok Hasyawiyyah, di mana mereka menetapkan perbuatan fisik bagi Allah SWT.

Syahrestani berkata, "Adapun penyerupaan yang dilakukan oleh kelompok Hasyawiyyah telah sampai kepada batas di mana mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka dapat disentuh dan diajak berjabat tangan, dan bahwa kaum Muslimin yang mukhlis akan dapat memeluk-Nya di dunia dan di akhirat, ketika mereka telah sampai ke tingkatan ikhlas di dalam riyadhah (latihan spiritual) dan ijtihad."[360]

Contoh-Contoh Hadis Tajsim

Berikut ini beberapa contoh dari riwayat-riwayat tajsim, yang kami pilih dari kitab as-Sunnah, yang telah diriwayatkan oleh Abdullah dari ayahnya Ahmad bin Hanbal, dan juga dari kitab at-Tauhid, karya Ibnu Khuzaimah.

1. Abdullah bin Ahmad meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Dia berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata, 'Saya bertanya, 'Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?' Rasulullah saw menjawab, 'Ya.' Saya berkata, 'Kita tidak kehilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan."'[361]

2. Abdullah berkata, "Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa'id bin Jubair yang berkata, 'Sesungguhnya mereka berkata, 'Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?' Saya berkata kepada Sa'id bin Jubair, lalu dia berkata, 'Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan tangan-Nya, sehingga para penduduk langit dapat mendengar suara gerak pena-Nya."[362]

3. Abdullah berkata, "Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi 'Ithaq yang berkata, 'Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan tangan-Nya, dalam keadaan menyandarkan punggungnya ke batu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar bunyi suara pena Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali sebuah tirai.'"[363]

Apakah Anda dapat memahami sesuatu selain tajsim dan tasybih dari riwayat-riwayat ini? Sungguh dusta orang yang mempercayai hadis-hadis ini namun mengatakan bahwa dirinya tidak membayangkan Tuhannya. Tidak, mereka pasti membayangkannya.

Telah berlangsung sebuah diskusi di antara saudara saya dengan salah seorang tokoh Wahabi, yang merupakan kepanjangandari keyakinan Hanbali. Diskusi mereka mengenai seputar sifat-sifat Allah. Saudara saya mensucikan Allah dari sifat-sifat yang seperti ini, dan dengan berbagai jalan berusaha membuktikan keburukan keyakinan-keyakinan tersebut. Namun, semuanya itu tidak mendatangkan manfaat, hingga akhimya saudara saya mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya,

"Jika memang SWT mempunyai sifat-sifat ini, yaitu Dia mempunyai wajah, mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dan sifat-sifat lainnya yang mereka alamatkan kepada Tuhan mereka, apakah tidak mungkin kemudian seorang manusia membayangkan dan mengkhayalkann-Nya? Dan dia pasti akan membayangkan-Nya. Karena jiwa manusia tercipta sedemikian rupa, sehingga dia akan membayangkan sesuatu yang telah diberi sifat-sifat yang seperti ini." Jawaban yang diberikan oleh tokoh Wahabi tersebut benar-benar menjelaskan keyakinannya tentang tajsim. Dia berkata, "Ya, seseorang dapat membayangkan-Nya, namun dia tidak diperkenankan memberitahukannya..!!"

Saudara saya berkata kepadanya, "Apa bedanya antara Anda meletakkan sebuah berhala di hadapan Anda dan kemudin Anda menyembahnya, dengan Anda membayangkan sebuah berhala dan kemudian menyembahnya?"

Tokoh Wahabi itu berkata, "Ini adalah perkataan kelompok Rafidhi —semoga Allah memburukkan mereka. Mereka beriman kepada Allah namun mereka tidak mensifati-Nya dengan sifat-sifat seperti ini. Sehingga dengan demikian, mereka menyembah Tuhan yang tidak ada."

Saudara saya berkata, "Sesungguhnya Allah yang Mahabenar, Dia tidak dapat diliputi oleh akal, tidak dapat digapai oleh penglihatan, tidak dapat ditanya di mana dan bagaimana, serta tidak dapat dikatakan kepada-Nya kenapa dan bagaimana. Karena Dialah yang telah menciptakan di mana dan bagaimana. Segala sesuatu yang tidak dapat Anda bayangkan itulah Allah, dan segala sesuatu yang dapat Anda bayangkan adalah makhluk. Kami telah belajar dari para Imam Ahlul Bait as. Mereka berkata, 'Segala sesuatu yang kamu bayangkan, meski pun dalam bentuk yang paling rumit, dia itu makhluk seperti kamu.' Keseluruhan pengenalan Allah ialah ketidak-mampuan mengenal-Nya."

Tokoh Wahabi itu berkata dengan penuh emosi, "Kami menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya, dan itu cukup."

Kemudian, cobalah lihat bagaimana mereka menetapkan bahwa Allah mempunyai jari, dan mereka juga menetapkan bahwa di antara jari-jari-Nya itu terdapat jari kelingking, serta jari kelingking-Nya mempunyai sendi. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam kitab at-Tauhid. Ibnu Khuzaimah berkata, dengan bersanad dari Anas bin Malik yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Manakala Tuhannya menaiki gunung, Dia mengangkat jari kelingking-Nya, dan mengerutkan sendi jari kelingkingnya iru, sehingga dengan begitu lenyaplah gunung.'"

Humaid bertanya kepadanya, "Apakah kamu akan menyampaikan hadis ini?" Dia menjawab, "Anas menyampaikan hadis ini kepada kami dari Rasulullah, lalu kamu menyuruh kami untuk tidak menyampaikan hadis ini?"[364]

Mereka menetapkan Allah SWT mempunyai tangan, tangan-Nya mempunyai jari, dan di antara jari-Nya itu ialah jari kelingking. Kemu-dian mereka juga mengatakan jari kelingking itu mempunyai sendi...!! Mari kita teruskan, supaya lebih jelas gambaran untuk Anda.

Mereka juga mengatakan Allah SWT mempunyai dua tangan dan dada. Abdullah berkata, "Ayahku berkata kepadaku...lalu dia pun me-nyebutkan sanadnya yang berasal dari Abdullah bin Umar yang berkata, 'Malaikat telah diciptakan dari cahaya dada dan dua tangan (Allah).'"[365]

Abdullah juga berkata, dengan bersanad dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw yang bersabda, "Sesungguhnya kekasaran kulit orang Kafir panjangnya tujuh puluh dua hasta, dengan ukuran panjang tangan Yang Maha Perkasa."[366]

Dari hadis ini dapat dipahami, di samping Tuhan mempunyai dada dan dua tangan, juga kedua tangan Tuhan mempunyai ukuran panjang tertentu. Karena jika tidak, maka tidak mungkin kedua tangan tersebut menjadi ukuran bagi satuan panjang.

Mereka tidak hanya cukup sampai di sini, melainkan mereka juga menjadikan Allah mempunyai kaki.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dengan bersanad kepada Anas bin Malik yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Orang-orang kafir dilemparkan ke dalam neraka. Lalu neraka berkata, 'Apakah masih ada tambahan lagi?', maka Allah pun meletakkankaki-Nya ke dalam neraka, sehingga neraka berkata, 'Cukup, cukup.'"[367]

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulallah saw yang bersabda, "Neraka tidak menjadi penuh sehingga Allah me-letakkan kaki-Nya ke dalamnya. Lalu, neraka pun berkata, 'Cukup, cukup.' Ketika itu lah neraka menjadi penuh."[368]

Mereka melangkah lebih jauh lagi. Mereka juga menetapkan bahwa Allah SWT mempunyai nafas. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, dengan bersanad kepada Ubay bin Ka'ab yang berkata, "Janganlah kamu melaknat angin, karena sesungguhnya angin berasal dari nafas Tuhan."[369]

Apa yang yang masih tersisa, terutama setelah mereka menetapkan Allah SWT mempunyai wajah. Bagaimana dengan suara-Nya?!

Mereka telah menetapkannya dan bahkan menyerupakannya dengan suara besi. Abdullah bin Ahmad, dengan sanadnya telah berkata, "Jika Allah berkata-kata menyampaikan wahyu, para penduduk langit mendengar suara bising tidak ubahnya suara bising besi di suasana yang hening."[370]

Kemudian, mereka menetapkan bahwa Allah SWT mempunyai bobot. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang mendudukinya. Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit?

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, dengan bersanad dari Umar yang berkata, "Jika Allah duduk di atas kursi, akan ter-dengar suara derit tidak ubahnya seperti suara deritnya koper besi."[371] Atau, tidak ubahnya seperti suara kantong pelana unta yang dinaiki oleh penunggang yang berat.

Dia juga berkata, dengan bersanad kepada Abdullah bin Khalifah yang berkata, "Seorang wanita datang kepada Nabi saw lalu berkata, 'Mohonlah kepada Allah supaya Dia memasukkan saya kedalam surga.' Nabi saw berkata, 'Maha Agung Tuhan.' Rasulullah saw kembali berkata, 'Sungguh luas kursi-Nya yang mencakup langit dan bumi. Dia mendudukinya, sehingga tidak ada ruang yang tersisa darinya kecuali hanya seukuran empat jari. Dan sesungguhnya Dia mempunyai suara tidak ubahnya seperti suara derit pelana tatkala dinaiki."'[372]

Sempurna lah bentuk yang jelek ini. Dengan demikian, Allah SWT menjadi seorang manusia, yang mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia. Inilah yang tampak dari mereka, meskipun mereka mengingkarinya. Bahkan, mereka mengatakan lebih dari itu.

Di dalam sebuah hadis disebutkan, Allah SWT menciptakan Adam berdasarkan wajah-Nya, setinggi tujuh puluh hasta.

Mereka juga menetapkan bahwa Allah SWT dapat dilihat. Seba-gaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dengan bersanad kepada Ibnu Abbas yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Aku melihat Tuhanku dalam bentuk-Nya yang paling bagus. Lalu Tuhanku berkata, 'Ya Muhammad.' Aku menjawab, 'Aku datang me-menuhi seruan-Mu.' Tuhanku berkata lagi, 'Dalam persoalan apa malaikat tertinggi bertengkar?' Aku menjawab, 'Aku tidak tahu, wahai Tuhanku.' Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, 'Kemudian Allah meletakkan tangan-Nya di antara dua pundak aku, sehingga aku dapat merasakan dinginnya tangan-Nya di antara kedua tetekku, maka aku pun mengetahui apa yang ada di antara timur dan barat.'"[373]

Dia juga berkata, sesungguhnya Abdullah bin Umar bin Khattab mengirim surat kepada Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Umar bertanya, 'Apakah Muhammad telah melihat Tuhannya?' Maka Abdullah bin Abbas pun mengirim surat jawaban kepadanya. Abdullah bin Abbas menjawab, 'Benar.' Abdullah bin Umar kembali mengirim surat untuk menanyakan bagaimana Rasulullah saw melihat Tuhannya. Abdullah bin Abbas mengirim surat jawaban, 'Rasulullah saw melihat Tuhannya di sebuah taman yang hijau, dengan tanpa permadani dari emas. Dia tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari emas, yang diusung empat orang malaikat. Seorang malaikat dalam rupa seorang laki-laki, seorang lagi dalam rupa seekor sapi jantan, seorang lagi dalam rupa seekor burung elang, dan seorang lagi dalam rupa seekor singa.'"[374]

Manakala sebagian kelompok Hanbali melihat buruknya apa yang telah mereka buat, mereka berusaha memberikan pembenaran terhadap hal itu, dan memberikan alasan dengan mengatakan: Tanpa bentuk (bi la kaif).

Abul Hasan al-Asy'ari telah bersandar kepada pembenaran ini. Dia mengatakan di dalam kitabnya al-Ibanah, halaman 18, "Sesungguhnya Allah mempunyai wajah dengan tanpa bentuk (kaif), sebagaimana firman-Nya, 'Dan tetap kekal wajah Tuhanmu, yang mempunyai kebe-saran dan kemuliaan.' Allah SWT juga mempunyai dua tangan dengan tanpa bentuk, sebagaiman firtnan-Nya, 'Aku mencipta dengan tangan-Ku."'

Sungguh benar apa yang dikatakan seorang penyair,

"Mereka telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya

namun mereka takut akan kecaman manusia

maka oleh karena itu mereka pun menyembunyikannya

dengan mengatakan tanpa bentuk."

Bagi setiap orang yang berakal sehat, pembenaran ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Karena ketidak-tahuan akan bentuk tidak memberikan faidah sedikit pun, dan tidak mendorong kepada arti yang benar. Justru dia lebih dekat kepada kesamaran. Karena, penetapan kata-kata ini kepada makna hakikinya adalah berarti penetapan bentuk itu sendiri bagi kata-kata tersebut. Karena kata-kata berdiri dengan bentuknya itu sendiri, dan penetapan sifat-sifat ini ke dalam artinya sebagaimana yang sudah dikenal adalah berarti tajsim dan tasybih itu sendiri. Adapun alasan yang mereka kemukakan, bahwa itu tanpa bentuk (kaif), tidak lebih hanya merupakan silat lidah saja.

Saya pernah berdiskusi dengan salah seorang dosen saya di kampus tentang seputar masalah duduknya Allah di atas ‘Arsy. Ketika dia ter-desak dia mengemukakan alasan, "Kami hanya akan mengatakan apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf, 'Arti duduk (al-istiwa) diketahui, bentuk duduk (al-kaif) tidak diketahui, dan pertanyaan tentang-nya adalah bid'ah.'"

Saya katakan kepadanya, "Anda tidak menambahankan apa-apa kecuali kesamaran, dan Anda hanya menafsirkan air dengan air setelah semua usaha ini."

Dia berkata, "Bagaimana mungkin, padahal diskusi demikian serius."

Saya katakan, "Jika arti duduk diketahui, maka tentu bentuknya pun diketahui juga.

Sebaliknya, jika bentuk tidak diketahui, maka duduk pun tidak diketahui, karena tidak terpisah darinya. Pengetahuan tentang "duduk" adalah pengetahuan tentang "bentuk" itu sendiri, dan akal tidak akan memisahkan antara sifat sesuatu dengan bentuknya, karena keduanya adalah satu.

Jika Anda mengatakan si Fulan duduk, maka ilmu Anda tentang duduknya adalah ilmu Anda tentang bentuk (kaifiyyah) duduknya.

Ketika Anda mengatakan, "duduk" diketahui, maka ilmu anda tentang duduk itu adalah ilmu Anda tentang bentuk duduk itu sendiri. Karena jika tidak, maka tentu terdapat pertentangan di dalam perkataan Anda, yang mana pertentangan itu bersifat zat. Ini tidak ada bedanya dengan pernyataan bahwa Anda mengetahui "duduk", namun pada saat yang sama Anda mengatakan bahwa Anda tidak mengetahui bentuknya."

Dia pun terdiam beberapa saat, lalu dengan tergesa-gesa dia meminta ijin untuk pergi.

Semua yang dikatakan mereka tentang tidak adanya kaif (bentuk), namun dengan tetap menerapkan arti hakiki pada kata-kata di atas, tidak lain merupakan dua hal yang saling bertentangan. Sebagaimana mereka mengatakan bahwa Allah SWT mempunyai tangan dalam arti yang sesungguhnya, namun tangan-Nya tidak sebagaimana tangan, adalah sebuah perkataan yang mana bagian akhirnya menyalahi bagian awalnya, dan begitu juga sebaliknya. Karena tangan dalam arti yang sesungguhnya (hakiki), mempunyai bentuk sebagaimana yang telah diketahui. Dan, penafian bentuk darinya adalah berarti membuang hakikatnya.

Jika kata-kata yang kosong ini cukup untuk menetapkan kesucian Allah SWT, maka tentunya kita dapat mengatakan, Allah SWT mempunyai jisim namun tanpa bentuk, Allah mempunyai darah namun tanpa bentuk, Allah mempunyai daging namun tanpa bentuk, dan Allah mempunyai rambut namun tanpa bentuk.

Bahkan, salah seorang dari mereka sampai mengatakan, "Sesungguhnya saya malu untuk menetapkan Allah mempunyai kemaluan dan janggut. Oleh karena itu, maafkanlah saya, dan tanyalah kepada saya selain dari keduanya."

Juga perlu diingat, jangan sampai dari keterangan ini Anda memahami bahwa kita mempercayai takwil di dalam ayat-ayat yang seperti ini. Karena pentakwilan makna zahir Al-Qur'an dan sunnah dengan alasan bahwa makna tersebut bertentangan dengan akal, tidaklah dibolehkan. Karena di dalam Al-Qur'an dan sunnah tidak ada sesuatu yang bertentangan dengan akal. Adapun apa yang terbersit bahwa makna zahir Al-Qur'an dan hadis bertentangan dengan akal, sebenarnya itu bukanlah makna zahir, melainkan sebuah makna yang mereka bayangkan sebagai makna zahir.

Berkenaan dengan ayat-ayat yang seperti ini, tidak diperlukan adanya takwil. Karena bahasa, di dalam penunjukkan maknanya, terbagi kepada dua bagian:

1. Penunjukkan makna ifradi.

2. Penunjukkan makna tarkibi.

Terkadang, makna ifradi berbeda dari makna tarkibi, jika di sana terdapat petunjuk (qarinah) yang memalingkan makna tarkibi dari makna ifradi. Sebaliknya, makna tarkibi akan sejalan dengan makna ifradi apabila tidak terdapat qarinah (petunjuk) yang memalingkannya dari makna ifradi. Sebagai contoh, tatkala kita menyebutkan kata "singa" —yaitu berupa kata tunggal— maka dengan serta merta ter-bayang di dalam benak kita binatang buas yang hidup di hutan. Makna yang sama pun akan hadir di dalam benak kita manakala kata tersebut disebutkan dalam bentuk susunan kata (tarkibi) yang tidak mengan-dung petunjuk (qarinah) yang memalingkannya dari makna ifradi. Seperti kalimat yang berbunyi, "Saya melihat seekor singa tengah memakan mangsanya di hutan."

Sebaliknya, makna kata singa akan berubah sama sekali apabila di dalam susunan kata (kalimat) kita mengatakan, "Saya melihat singa tengah menyetir mobil."

Maka yang dimaksud dari kata singa yang ada di dalam kalimat ini adalah seorang laki-laki pemberani. Inilah kebiasaan orang Arab di dalam memahami perkataan. Manakala seorang penyair berkata,

"Dia menjadi singa atas saya,

namun di medan perang

dia tidak lebih hanya seekor burung onta yang lari

karena suara terompet perang yang dibunyikan."

Dari syair ini kita dapat mengetahui bahwa kata singa di atas tidak lain adalah seorang laki-laki yang berpura-pura berani di hadapan orang-orang yang lemah, namun kemudian lari sebagai seorang pengecut tatkala berhadapan dengan musuh.

Orang yang mengerti perkataan ini, tidak mungkin akan menamakannya sebagai orang yang mentakwil nas dengan sesuatu yang keluar dari makna zahir perkataan.

Demikian juga halnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang seperti ini. Ketika —misalnya— Allah SWT mengatakan, "Tangan Allah di atas tangan mereka ", maka pengartian tangan di sini sebagai kekuasaan bukanlah suatu bentuk takwil. Hal ini tidak berbeda dengan perkataan yang berbunyi, "Negeri berada di dalam genggaman tangan raja". Yaitu artinya berada di bawah kekuasaan dan kehendak raja. Kata-kata ini tetap sesuai diucapkan meskipun pada kenyataannya raja tersebut buntung tangannya. Demikian juga halnya dengan ayat-ayat lainnya. Kita menetapkan makna tarkibi, yang tampak dari sela-sela konteks kalimat, dan kita tidak terpaku dengan makna kata secara leksikal, dengan tanpa melakukan takwil atau tahrif. Itulah yang di-sebut dengan beramal dengan zahir nas. Namun tentunya, zahir yang tampak dari konteks kalimat. Orang-orang Hanbali, mereka menyesatkan manusia dengan makna zahir fardiyyah, dengan tanpa melihat kepada makna keseluruhan (ijmali tarkibi).

Dengan cara inilah makna zahir Al-Qur'an dan sunah menjadi hujjah, yang tidak seorang pun manusia diperbolehkan berpaling darinya, dan juga mentakwilkannya, setelah sebelumnya memperhatikan dengan seksama qarinah-qarinah (petunjuk-petunjuk) yang menyatu maupun yang terpisah. Adapun orang yang berhujjah dengan makna zahir fardiyyah maka dia telah lalai dan menyimpang dari perkataan orang Arab.

b. Periode Ibnu Taimiyah (Ahmad bin Abdul Halim)

Setelah akidah Asy'ariyyah tersebar luas meliputi sebagian besar negeri Islam, dan menjadi mazhab resmi di dalam bidang akidah bagi mayoritas kaum Muslimin, nama Ahmad bin Hanbal sudah jarang disebut, dan pengaruh akidahnya pun semakin menyusut, hingga kemudian muncul Ibnu Taimiyyah yang lahir pada tahun 661 Hijrah di dalam rumah seorang tokoh Hanbali, di salah satu benteng terpenting kelompok Hanbali di kota Haran. Ibnu Taimiyyah tumbuh di dalam lingkungan keluarga ini, dan belajar kepada ayahnya, yang telah memperuntukkan kursi untuknya di Damaskus setelah kepindahannya ke sana. Ibnu Taimiyyah juga belajar kepada orang lain dalam bidang ilmu hadis, ilmu rijal al-hadis, ilmu bahasa, tafsir, fikih dan ushul. Setelah ayahnya meninggal dunia, Ibnu Taimiyyah memimpin majlis pelajaran yang ditinggalkan ayahnya. Ini merupakan kesempatan baginya untuk mengembalikan kemuliaan ajaran keyakinan Hanbali. Dia memanfaatkan mimbar yang ada untuk berbicara mengenai sifat-sifat Allah SWT, dengan menyebutkan argumentasi-argumentasi yang memperkuat keyakinan orang-orang yang berpegang kepada paham tajsim. Ini tampak jelas sekali manakala dia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh penduduk Hamah kepadanya tentang ayat-ayat sifat. Seperti firman firman Allah SWT yang berbunyi, "Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas '‘Arsy", seperti firman Allah SWT yang berbunyi, "Kemudian Dia menuju ke langit", dan seperti sabda Rasulullah saw yang berbunyi, "Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari Tuhan Yarig Maha Pemurah". Ibnu Taimiyyah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka melalui risalah yang panjang, yang kemudian dinamakan dengan "keyakinan Hamawiyyah". Di dalam risalahnya itu tersingkap keyakinannya tentang faham tajsim dan tasybih, namun dengan tidak secara terang-terangan, melainkan dengan menggunakan kata-kata yang samar, yamg kalau sekiranya kata-kata itu dihilangkan niscaya akan tampak jelas kenyataan yang sesungguhnya. Risalahnya ini telah menimbulkan kegegeran di kalangan para ulama. Para ulama mengecamnya, dan Ibnu Taimiyyah pun meminta perlindungan kepada penguasa Damaskus yang telah membantunya. Ibnu Katsir menuturkan peristiwa ini, "Telah terjadi malapetaka besar bagi Syeikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah di kota Damaskus. Sekelompok para fukaha bangkit menentangnya, dan hendak menghadirkannya ke majlis hakim Jalaluddin al-Hanafi, namun dia tidak hadir. Maka dia pun dipanggil ke pusat kota untuk ditanyai mengenai keyakinan yang pernah ditanyakan penduduk Hamah kepadanya, yang dinamakan dengan "keyakinan Hamawiyyah". Amir Saifuddin Ja'an berpihak kepada Ibnu Taimiyyah, dan dia mengirim surat untuk meminta orang-orang yang telah menentang Ibnu Taimiyyah. Melihat itu, sebagian besar dari mereka pun bersembunyi. Sultan Saifuddin Ja'an memukuli sekelompok orang yang memprotes akidah yang diajarkan oleh Ibnu Taimiyyah, sehingga sebagian yang lainnya pun menjadi diam."[375]

Para ulama bersikap diam terhadap keyakinan yang menyimpang, dikarenakan kekuatan penguasa mendukung keyakinan yang menyim-pang itu. Dengan begitu, Ibnu Taimiiyah mendapat kesempatan untuk berbicara sesukanya. Seorang saksi mata, yang merupakan seorang pengembara terkenal yang bernama Ibnu Bathuthah, telah menukilkan kepada kita tentang keyakinan Ibnu Taimiyyah mengenai Allah SWT. Dia mengatakan bahwa secara kebetulan dia pernah menghadiri pelajaran Ibnu Taimiyyah di mesjid Umawi. Ibnu Bathuthah berkata, "Ketika itu saya sedang berada di kota Damskus. Maka pada hari Jumat saya pergi untuk menghadiri pelajarannya. Di sana, saya mene-mukan dia tengah berbicara di hadapan manusia di atas mimbar mesjid jami'. Salah satu dari pembicaraannya ialah, 'Sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia sebagaimana turunnya saya ini', sambil dia memperagakan turun satu tingkat anak tangga dari atas mimbar.

Seorang Fakih Maliki, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Zahra memprotesnya dan mengecam apa yang dikatakannya. Melihat itu, para hadirin berdiri menyerang Fakih Maliki tersebut. Mereka memukulinya dengan tangan dan sendal, sehingga sorbannya jatuh, dan kemudian tampak di atas kepalanya terdapat kain tipis dari sutera. Melihat itu, mereka pun mengecam pakaian yang dipakainya, dan kemudian membawanya ke rumah 'lzzuddin bin Muslim, seorang qadi Hanbali. Lalu qadi itu memerintahkan supaya Fakih Maliki itu dipenjara dan dipukul."[376]

Perkataan Ibnu Taimiiyah ini direkam oleh Ibnu Hajar al-'Asqalani di dalam kitabnya ad-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal 154. Dari perkataannya ini tampak sekali kefanatikannya yang sangat terhadap orang-orang yang mengakui sifat-sifat Allah SWT ini, hingga sampai batas dia menyerupakan dirinya dengan Allah SWT. Sungguh ini merupakan kekufuran yang sesungguhnya.

Dia menyembunyikan keyakinan-keyakinannya ini dengan label keyakinan salaf. Dia membuat kebohongan atas salaf dan berlindung kepada mereka, dengan tujuan untuk menyembunyikan kejelekan-kejelekan keyakinannya. Padahal, dia tahu bahwa hal yang seperti itu pun telah pernah dilakukan oleh orang-orang Hanbali. Mereka berusaha mengenakan pakaian salaf ke atas keyakinan-keyakinan mereka. Namun itu semua tidak mendatangkan manfaat yang banyak, dikarenakan banyaknya mazhab keyakinan, baik yang datang sebelum maupun sesudah Ahmad bin Hanbal. Perselisihan ini membuktikan tidak adanya kesatuan kaum Muslimin di dalam sebuah keyakinan yang sama. Masing-masing dari mazhab tersebut mengklaim merekalah yang mempunyai hubungan dengan Laila, padahal Laila tidak mengakui itu.

Syahrestani membantah pengakuan Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa mazhabnya adalah mazhab salaf di dalam kitabnya al-Milal wa an-Nihal, "Sekelompok orang-orang terkemudian bersikap berlebihan atas apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf. Mereka mengatakan, 'Ayat-ayat ini mau tidak mau harus diterapkan pada makna zhahirnya', sehingga mereka pun jatuh ke dalam paham tasybih semata. Yang demikian itu jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh kalangan salaf. Paham tasybih hanya ada pada orang-orang Yahudi, namun tidak pada seluruh mereka,"[377]

Ibnu Taimiyyah telah menipu masyarakat umum dengan generalisasi yang dia lakukan. Sebagai contoh, dia mengatakan, "Adapun yang saya katakan dan tulis sekarang, meskipun saya belum pernah me-nuliskannya pada jawaban-jawaban saya yang telah lalu, namun saya sudah sering mengatakan di majlis-majlis, 'Sesungguhnya berkenaan dengan seluruh ayat sifat yang terdapat di dalam Al-Qur'an, tidak terdapat perselisihan di kalangan para sahabat di dalam pentakwilannya. Saya telah membaca berbagai tafsir yang ternukil dari para sahabat, begitu juga hadis-hadis yang mereka riwayatkan, dan saya juga telah menelaah banyak sekali kitab-kitab, baik yang besar maupun yang kecil, yang jumlahnya lebih dari seratus kitab tafsir, namun saya belum menemukan seorang pun dari para sahabat, hingga saat ini, yang mentakwil ayat-ayat sifat atau hadis-hadis sifat dengan sesuatu yang bertentangan dengan pengertiannya yang sudah dikenal."[378]

Dengan cara inilah masyarakat umum membenarkan perkataannya. Namun, dengan sedikit saja kita merujuk kepada kitab-kitab tafsir ma 'tsurah niscaya akan tampak bagi kita kebohongan Ibnu Taimiyyah. Apakah itu di dalam ketidak-merujukkannya kepada kitab-kitab tafsir, atau di dalam pengklaimannya akan tidak adanya takwil dari para sahabat berkenaan dengan ayat-ayat sifat. Saya kemukakan beberapa contoh berikut ini:

Jika kita merujuk ke dalam kitab tafsir ath-Thabari, yang oleh Ibnu Taimiyyah digambarkan sebagai berikut, "Di dalamnya tidak terdapat bid'ah, dan tidak meriwayatkan dari orang-orang yang menjadi tertuduh."[379]

Ketika kita merujuk kepada ayat kursi, yang oleh Ibnu Taimiyyah dianggap termasuk salah satu ayat sifat yang terbesar, sebagaimana yang dia katakan di dalam kitab al-Fatawa al-Kabirah, jilid 6, hal 322, Thabari mengemukakan dua riwayat yang bersanad kepada Ibnu Abbas, berkenaan dengan penafsiran firman Allah SWT yang berbunyi, "Kursi Allah meliputi langit dan bumi. "

Thabari berkata, "Para ahli takwil berselisih pendapat tentang arti kursi. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ilmu Allah. Orang yang berpendapat demikian bersandar kepada Ibnu Abbas yang mengatakan, 'Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.'

Adapun riwayat lainnya yang juga bersandar kepada Ibnu Abbas mengatakan, 'Kursi-Nya adalah ilmu-Nya. Bukankah kita melihat di dalam firman-Nya, 'Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. '"[380]

Perhatikanlah, betapa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah tidak lain kebohongan yang nyata. Dia mengatakan, "Kalangan salaf tidak berbeda pendapat sedikit pun di dalam masalah sifat", padahal Thabari mengatakan, "Para ahli takwil berbeda pendapat". Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, "Saya tidak menemukan hingga saat sekarang ini seorang sahabat yang mentakwil sedikit saja ayat-ayat sifat", disertai dengan pengakuannya bahwa dia telah merujuk seratus kitab tafsir, padahal Thabari menyebutkan dua riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas.

Berikut ini contoh yang kedua, yang masih berasal dari kitab tafsir Thabari. Pada saat menafsirkan firman Allah SWT yang berbunyi, "Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar", Thabari berkata,

"Para pengkaji berbeda pendapat tentang makna firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar.' Sebagian mereka berpendapat, 'Artinya ialah, 'Dan Dia Mahatinggi dari padanan dan bandingan.' Mereka menolak bahwa maknanya ialah 'Dia Mahatinggi dari segi tempat.' Mereka mengatakan, Tidaklah boleh Dia tidak ada di suatu tempat. Maknanya bukanlah Dia tinggi dari segi tempat. Karena yang demikian berarti menyifati Allah SWT ada di sebuah tempat dan tidak ada di tempat yang lain.'"[381]

Demikianlah pendapat kalangan salaf. Sedangkan Ibnu Taimiyyah telah memilih jalan yang lain bagi dirinya, namun kemudian dia tidak menemukan orang yang mendukung jalannya, maka dia pun menisbahkan jalannya kepada salaf. Padahal kita melihat kalangan salaf tidak mempercayai keyakinan tempat bagi Allah SWT, sementara Ibnu Taimiyyah mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi untuk membuktikan keyakinan tempat bagi Allah SWT, di dalam risalah yang ditujukannya bagi penduduk kota Hamah. Bahkan, tatkala dia sampai kepada firman Allah SWT yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah SWT bersemayam di atas '‘Arsy", dia mengatakan, "Sesung-guhnya Dia berada di atas langit."[382] Yang dia maksud adalah tempat.

Adapun di dalam kitab tafsir Ibnu 'Athiyyah, yang oleh Ibnu Taimiyyah dianggap sebagai kitab tafsir yang paling dapat dipercaya, disebutkan beberapa riwayat Ibnu Abbas yang telah disebutkan oleh Thabari di dalam kitab tafsirnya. Kemudian, Ibnu 'Athiyyah memberi-kan komentar tentang beberapa riwayat yang disebutkan oleh Thabari, yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Taimiyyah, "Ini adalah perkataan-perkataan bodoh dari kalangan orang-orang yang mempercayai tajsim. Wajib hukumnya untuk tidak menceritakannya."[383]

Berikut ini adalah bukti lainnya berkenaan dengan penafsiran firman Allah SWT yang berbunyi, "Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya" (QS. al-Qashash: 88), dan juga firman Allah SWT yang ber-bunyi, "Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu, yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (QS. ar-Rahman: 27), di mana dengan perantaraan kedua ayat ini Ibnu Taimiyyah menetapkan wajah Allah SWT dalam arti yang sesungguhnya.

Thabari berkata, "Mereka berselisih tentang makna firman-Nya, 'kecuali wajah-Nya."' Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud ialah, segala sesuatu pasti binasa kecuali Dia. Sementara sebaaian lain berkata bahwa maknanya ialah, kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dan mereka mengutip sebuah syair untuk mendukung takwil mereka,

"Saya memohon ampun kepada Allah dari dosa yang saya tidak mampu menghitungnya

Tuhan, yang kepada-Nya lah wajah dan amal dihadapkan.""[384]

Al-Baghawai berkata, "Yang dimaksud dengan 'kecuali wajah-Nya' ialah 'kecuali Dia'. Ada juga yang mengatakan, 'kecuali kekuasaan-Nya'."

Abul 'lyalah berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehandaki wajah-Nya'."[385]

Di dalam kitab ad-Durr al-Mantsur, dari Ibnu Abbas yang berkata, "Artinya ialah 'kecuali yang dikehendaki wajah-Nya'."

Dari Mujahid yang berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehendaki wajahnya.'"

Dari Sufyan yang berkata, "Yang dimaksud ialah 'kecuali yang dikehendaki wajah-Nya, dari amal perbuatan yang saleh'."

Inilah pendapat kalangan salaf yang sesungguhnya. Lantas, atas dasar apa Ibnu Taimiyyah mengatakan tentang keyakinannya, "Ini adalah keyakinan kalangan salaf."

Jangan Anda katakan kepadanya kecuali firman Allah SWT yang berbunyi,

"Mengapa Anda mencampur-adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal Anda mengetahui?" (QS. Ali 'lmran: 71)

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh orang-orang yang melaknati. " (QS. al-Baqarah: 159)

Oleh karena itu, para ulama semasanya tidak tinggal diam atas perkataan-perkataannya. Mereka memberi fatwa tentangnya dan memerintahkan manusia untuk menjauhinya. Hingga akhirnya Ibnu Taimiyyah dipenjara, dilarang menulis di dalam penjara, dan kemudian meninggal dunia di dalam penjara di kota Damaskus, dikarenakan keyakinan-keyakinan sesatnya dan pikiran-pikiran ganjilnya. Banyak dari kalangan para ulama dan huffadz yang telah menulis kitab untuk membantah keyakinan-keyakinannya. Adz-Dzahabi telah menulis surat kepadanya, yang berisi kecaman terhadapnya atas keyakinan-keyakinan yang dibawanya. Surat adz-Dzahabi tersebut cukup panjang, dan kita cukup mengutip beberapa penggalan saja darinya. 'Allamah al-Amini telah menukil surat adz-Dzahabi ini secara lengkap di dalam kitab al-Ghadir, jilid 7, hal 528, yang dia nukil dari kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil, karya al-Kautsari, halaman 190.

Salah satu penggalan dari surat adz-Dzahabi tersebut ialah,

"Betapa meruginya orang yang mengikutimu. Karena mereka dihadapkan kepada kekufuran. Terlebih lagi jika mereka orang yang sedikit ilmunya dan tipis agamanya, serta mengikuti hawa nafsunya. Mereka mendatangkan manfaat bagimu dan membelamu dengan tangan dan lidah mereka. Padahal, sesungguhnya mereka itu adalah musuhmu dengan keadaan dan hati mereka.

Tidaklah mayoritas orang yang mengikutimu melainkan orang yang kurang akalnya, pendusta yang bodoh, orang asing yang kuat makarnya, atau orang jahat yang tidak memiliki pemahaman. Jika kamu tidak percaya apa yang aku katakan, silahkan periksa dan timbang mereka..."

Di dalam kitab ad-Durar al-Kaminah, karya Ibnu Hajar al-'Asqalani, jilid 1, halaman 141 disebutkan, "Dari sana sini orang menolaknya. Tidaklah kebohongan dan pikiran-pikiran ganjil yang diciptakan oleh tangannya yang berlumuran dosa itu berasal dari Al-Qur'an, sunah, ijmak dan qiyas. Dan di kota Damaskus diumumkan, 'Barangsiapa yang berpegang kepada akidah Ibnu Taimiyyah, darah dan hartanya halal.'"

Al-Hafidz Abdul Kafi as-Subki telah berkata tentangnya. Dia juga telah menulis sebuah kitab yang membantah keyakinan-keyakinan Ibnu Taimiyyah, yang diberinya judul Syifa al-Asqamfi Ziyarah Khair al-Anam 'alaihi ash-Shalah wa as-Salam.

Al-Hafidz Abdul Kafi as-Subki telah berkata di dalam pengantar kitabnya, yang berjudul ad-Durrah al-Mudhi'ahfi ar-Radd 'ala Ibnu Taimiyyah, "Manakala Ibnu Taimiyyah membuat sesuatu yang baru di dalam bidang dasar-dasar keyakinan (ushul al-'aqa'id), dan merusak pilar-pilar Islam, setelah sebelumnya dia bersembunyi dengan slogan mengikuti Al-Qur'an dan sunah, menampakkan diri sebagai penyeru kepada kebenaran, dan petunjuk kepada jalan surga, maka dia telah keluar dari mengikuti Al-Qur'an dan sunah kepada membuat bid'ah, menyimpang dari jamaah kaum Muslimin dengan meyalahi ijmak, dan mengatakan sesuatu yang menuntut timbulya keyakinan tajsim dan tarkib pada Zat Yang Mahasuci, dan keyakinan yang mengatakan bahwa butuhnya Allah SWT kepada bagian-Nya bukanlah sesuatu yang mustahil."[386]

Berpuluh-puluh ulama telah mengecam dan memprotesnya. Namun kita tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengemukakan dan meneliti perkataan-perkataan mereka satu persatu. Pada kesempatan ini kita cukup mengemukakan apa yang telah dikatakan oleh Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitsami. Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitsami berkata di dalam biografi Ibnu Taimiyyah, "Ibnu Tamiyyah adalah seorang hamba yang telah dipermalukan oleh Allah, telah disesatkan-Nya, telah dibutakan-Nya, telah dibisukan-Nya dan telah dihinakan-Nya. Oleh karena itu, para imam secara terang-terangan menjelaskan kejelekan-kejelakan keadaannya, dan mendustakan perkataan-perkataannya. Barangsiapa yang ingin mengetahui hal itu, dia harus menelaah Imam al-Mujtahid, yang disepakati keimamahan dan derajat kemujtahidannya, yaitu Abul Hasan as-Subki, dan juga putranya, Syeikh al-Imam al-'Izz bin Jamaah, yang merupakan ahli jamannya. Ibnu Taimiyyah tidak hanya mengecam generasi salaf ter-akhir dari kalangan sufi, melainkan juga mengecam orang seperti Umar bin Khattab ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Alhasil, perkataan Ibnu Taimiyyah tidak dapat dijadikan ukuran, melainkan harus dicampak-kan dengan penuh kehinaan. Abul Hasan as-Subki berkata, 'lbnu Tamiyyah adalah pembuat bid'ah, sesat, menyesatkan, dan berlebih-lebihan. Semoga Allah memperlakukannya dengan keadilan-Nya, dan melindungi kita dari jalan, keyakinan dan perbuatan seperti jalan, keyakinan dan perbuatannya. Amin!"'[387]

Kita cukupkan sampai di sini pembahasan tentang Ibnu Taimiyyah. Insya Allah, kita akan mengkaji beberapa pemikirannya berdasarkan analisa ilmiah, dan membantahnya, pada saat kita berbicara tentang faham Wahabi. Karena faham Wahabi adalah merupakan kepanjangan sejarah dari keyakinan-keyakinan Ibnu Taimiyyah, yang pada gilirannya merupakan kepanjangan dari keyakinan-keyakinan Hanbali.

Orang ini amat mahir di dalam mencampur-adukkan antara kebe-naran dengan kebatilan. Oleh karena itu, sebagian kaum Muslimin berbaik sangka kepadanya dan menggelarinya dengan sebutan Syeikh Islam, sehingga dengan demikian namanya menjadi masyhur dan ajarannya menjadi tersebar, padahal itu semua tidak lain hanyalah kebatilan semata.

Amirul Mukminin telah berkata, "Awal mulanya terjadinya fitnah adalah hawa nafsu yang diperturuti, hukum yang dibuat-buat (bid'ah), yang menyalahi Kitab Allah, dan sekelompok orang menguasai sekelompok orang lainnya bukan berdasarkan agama Allah. Sekiranya kebatilan murni dan tidak bercampur dengan kebenaran, niscaya ia tak akan tersembunyi dari orang-orang yang mencarinya. Dan, apabila kebenaran murni dan tidak bercampur dengan kebatilan, niscaya terputuslah lidah para penentang. Namun, yang dilakukan oleh mereka ialah mengambil sedikit dari sini dan sedikit dari sana, dan kemudian mencampur-adukkannya. Maka di sanalah setan menguasai teman temannya, dan terbebaslah orang-orang yang sebelumnya telah men-dapatkan kebajikan dari kami." (Nahj al-Balaghah, khutbah 50)

c. Periode Muhammad bin Abdul Wahhab

Muhammad bin Abdul Wahhab bangkit menjadi pembaharu bagi akidah Hanbali, setelah hati dan pikirannya disirami pemikiran-pemikkan Ibnu Taimiyyah. Dia mengumumkan gerakannya di kota Najd, dan pergerakannya dimulai di suatu kawasan yang banyak dipenuhi dengan berbagai macam kezaliman, pembunuhan dan penganiayaan. Pada masanya lah keyakinan Hanbali yang kaku, untuk pertama kali di dalam sejarahnya mencapai kemuliaan dan kebesarannya, dan memasuki tataran penerapan pada kenyataan di luar, setelah pada dua periode sebelumnya tidak memperoleh keberhasilan yang besar. Adapun yang menjadi sebabnya ialah karena kelompok Asy'ariyyah secara langsung memonopoli bidang keyakinan sepeninggal Ahmad bin Hanbal. Adapun pada periode kedua, Ibnu Taimiyyah kehilangan lahan yang cukup untuk memenangkan dakwahnya. Karena dia menyebarkan ajar-annya di kalangan orang-orang yang berilmu, yang mana di antara mereka terdapat para ulama besar dan para fukaha. Mereka memadamkan hinggar bingar ajarannya melalui dalil dan argumentasi, sehingga bangkitlah di hadapannya satu gerakan yang memadamkan dakwahnya dan menghancurkan tipu dayanya. Sementara penguasa —pada saat itu—juga membantu para ulama di dalam berkonfrontasi dengannya. Sehingga dengan demikian, benih kerusakan tidak memperoleh tempat selain tersembunyi di antara kitab-kitab, atau menang di hati-hati yang berpenyakit.[388]

Sebaliknya bagi Muhamad bin Abdul Wahhab, situasi dan kondisi amat mendukung baginya untuk menyebarkan pemikiran-pemikirannya yang beracun ke tengah ummat. Karena kebodohan dan kebuta-hurufan menghinggapi seluruh kawasan Najd kala itu. Di samping itu, penguasa Ali Su'ud (keluarga Su'ud) membantu penyebaran dakwahnya dengan pedang. Dengan faktor-faktor inilah mereka memaksa manusia untuk berpegang kepada ajaran Wahabi, dan jika tidak, mereka akan mencapnya dengan label kufur dan syirik, serta menghalalkan harta dan darahnya. Mereka melakukan pembenaran atas tindakannya itu melalui sejumlah keyakinan rusak, dengan label "tauhid yang benar". Muhammad bin Abdul Wahhab memulai pembicaraannya tentang tauhid sebagai berikut:

"Tauhid ada dua macam: Tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah. Adapun mengenai tauhid rububiyyah, baik orang Muslim maupun orang kafir mengakui itu. Adapun tauhid uluhiyyah, dialah yang menjadi pembeda antara kekufuran dan Islam. Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah SWT sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur. Allah SWT berfirman,

'Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?' (QS. Yunus: 31)

'Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan buini dan menundukkan matahari dan bulan? 'Tentu mereka akan menjawab, 'Allah', maka betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar).' (QS. al-'Ankabut: 61)

Jika telah terbukti bagi Anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya Anda mengetahui bahwa perkataan Anda yang mengatakan "Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah", tidaklah menjadikan diri anda seorang Muslim sampai Anda mengatakan, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' dengan disertai melaksanakan artinya."[389]

Dengan pemahaman yang sederhana ini, yang tidak timbul melainkan dari kebodohan akan hikmah dan ayat-ayat Allah SWT, dia mengkafirkan seluruh masyarakat dengan mengatakan, "Sesungguh-nya orang-orang musyrik jaman kita —yaitu orang-orang Muslim— lebih keras kemusyrikannya dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik jaman dahulu, mereka hanya menyekutukan Allah di saat lapang, sementara di saat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, 'Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)."'[390]

Setiap orang yang bertawassul kepada Rasulullah saw dan para Ahlul Baitnya, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik; dan bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata, 'Uzza, Mana dan Hubal. Di bawah naungan keyakinan inilah mereka membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka. Adapun slogan yang sering mereka kumandangkan ialah,

Masuklah ke dalam ajaran Wahabi. Dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi janda, dan anak Anda menjadi yatim.

Saudaranya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab membantahnya di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa'iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd 'ala al-Wahabiyyah, "Sejak jaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada jaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka, mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang Anda katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah jaman Ahmad —semoga rahmat Allah tercurah atasnya— baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. —Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."[391]

Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam halaman 4, "Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur'an dan sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan me-lakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima per-kataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar