Senin, 17 Desember 2012

Kebiasaan berinfak setiap hari




Oleh: Dede Meki M 

Sebagian besar orang (mungkin seperti penulis juga), pada suatu ketika apabila ada seseorang atau aparat pemerintah setempat semisal RT/RW meminta sumbangan kepada kita baik itu yg bersifat rutin atau insidental dengan besaran tertentu untuk kepentingan umum atau untuk panti asuhan/yatim piatu, atau katakanlah per bulan dimintai Rp. 25.000 untuk pembanguan masjid atau perbaikan jalan, terkadang kita merasa “berat” dan kalaupun memberi tetapi terasa “berat”. Tetapi, itulah yang namanya “godaan”, pada saat kita diberi kesempatan oleh Alloh untuk berbuat kebaikan, selalu saja “pasukan syetan” menebar “godaan” dalam diri kita dengan berbagai bentukdan cara mereka “menyerang”.
Mungkin sudah banyak pengetahuan kita akan pentingnya dan besar hikmahnya infak/sodaqoh/zakat.
Dan penulis yakin, sebagian besar dari kita masih memiliki keinginan untuk “mampu berbagi”, akan tetapi “godaan” akan selalu ada. Berbagai bentuk godaan dalam bentuk berbagai alasan, misal sedang banyak pengeluaranlah, tidak punya uanglah, baru saja nyumbanglah (padahal belum) dan lain sebagainya.
Atas dasar keinginan untuk mampu berbagi tersebut itulah, untuk mengantisipasi menghadapai “godaan” tersebut, disini penulis memberanikan diri untuk menulis dan menyampaikan ide dan sedikit bersama-sama membuka mata kita. Yakni dengan metoda “Membiasakan berinfak tiap hari, walau hanya “gopek” rupiah”.
Beberapa dasar pertimbangan penulisan ini adalah:
1. Kita sering dihadapkan pada persoalan “berat berinfak” karena besarnya uang yang harus dikeluarkan.
2. Umat islam di indonesia merupakan umat yang besar, yang memiliki potensi untuk membesarkan agama dan negara..
3. Umat islam harus maju dalam konteks “berjama’ah” (dibaca: bersama)
4. Optimalisasi dan pengembangan potensi infak/sodaqoh/zakat.
5. Pembelajaran untuk kaum muda islam sejak dini.
6. Pengkikisan difat kikir
7. Konon, kata pak ustadz, disamping memberikan infak/sodaqoh/zakat akan memperoleh pahala dari Alloh SWT, juga bisa memberikan salah satu hikmahnya yakni menolak bala (musibah/hambatan).
8. Sebagian para pemikir agama yang “modernis”, berfikir bahwa optimalisasi infak/sodaqoh/zakat bisa diarahkan kepada berbagai hal yang lebih besar untuk kemashlahan umat, dengan tidak hanya “membantu memberi makan kaum dhuafa yang bersifat seketika.
9. Betapa dahsyatnya besarnya infak/sodaqoh/zakat dari kaum muslimin untuk kepentingan bersama.
Dari tingkatan keadaan sosial masyarakat kita, beberapa dari kita Insya Alloh merupakan masyarakat yang diberi kesempatan oleh Alloh untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan memiliki penghasilan yang tetap atau tidak tetap tetapi mencukupi. Dalam keseharian kita, sudah dipastikan kita akan selalu melakukan perjalanan dari tempat tinggal kita ke tempat usaha kita. Dengan konsekuensi logis sudah mendekati pasti kita akan mengeluarkan sebesar uang, baik untuk ongkos perjalanan maupun makan siang atau pun uang belanja yang dititipkan kepada istri kita di rumah. Dalam perjalanan kita menuju tempat usaha (dibaca: meninggalkan rumah untuk usaha), kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di “depan”, karena termasuk hal yanbg “ghoib”, apakah akan ada hambatan atau tidak, atau lancar serta berbagai hal bisa saja terjadi di luar prediksi kita. Dan sudah pasti kita berharap memperoleh perjalanan atau usaha yang lancar, selamat, aman. Untuk meyakinkan kita bahwa Alloh tetap selalu bersama kita dalam perjalanan, selain kita membaca basmallah atau berdoa sebelum berangkat, berusaha lah untuk melakukan “infak/sodaqoh sebelum meninggalkan rumah” dengan harapan berbagai hikmah dan kekuatan infak/sodaqoh tersebut akan memberikan berbagai kebaikan kepada kita. Adapun teknisnya mungkin seperti sediakanlah suatu tempat/wadah di rumah, baik itu kaleng bekas atau botol bekas yang diberi lubang untuk memasukkan sebesar uang. Sisihkanlah sebesar uang di kaleng tersebut sebagai infak/sodaqoh harian. Adapun besarnya, untuk perdana bisa berapa saja, artinya kalau beberapa dari kita memang memiliki penghasilan yang biasa saja, mulailah dengan sebesar Rp. 500 (“gopek”), tiap hari. Dan jangan lupa untuk mengucapkan basmallah sebelum memasukkan uang tersebut. Lakukanlah dengan terus menerus, istiqomah dan konsisten. Dan dengan berjalan waktu, biarkanlah uang yang terkumpul tersebut di tempatnya, tidak perlu dilihat-lihat atau dihitung-hitung. Apabila suatu ketika kita mendapatkan rezeki yang lebih besar dari biasanya, dicobalah untuk “agak” diperbesar rupiah yang dimasukkan ke dalam kaleng tersebut. Saya memiliki keyakinan, apabila kemampuan kita saat ini hanya “gopek”, percayalah, bila dilakukan dengan konsisten, suatu saat pasti kita akan mampu untuk melakukannya dua kali lipat atau tiga kali lipatnya.
Mari kita mencoba simulasi sedikit, dengan “gopek” sehari kita berinfak, dalam 1(satu) bulan, kaleng tersebut akan berisi sebesar 30 x 500 = 15.000 dan setahun menjadi Rp. 180.000. Dan apabila besaran uang ini akan digunakan, misal pada suatu saat setelah satu tahun ada permohonan infak/sodaqoh/zakat dari RT kita untuk membetulkan masjid di lingkungan rumah kita, dan tiap orang dipungut 50rb, pertanyaan sederhana, dengan mengeluarkan infak/sodaqoh/zakat Rp. 50rb dari uang Rp. 180.000 yang memang ada, apakah akan terasa berat??! Tentu tidak!. Katakanlah di lingkungan RT kita terdapat 50 orang yang melakukan hal sama seperti kita, maka dalam 1(satu) tahun akan didapat sebesar RP. 9.000.000 (9juta). Saya yakin, besaran uang 9jt untuk lingkungan tertentu bisa berbuat banyak untuk kepentingan umat. Daripada si Pak RT tersebut memungut sumbangan dengan Rp. 50rb x 50orang, hanya diperoleh sebesar Rp. 2.5jt. Arti kata, dengan bersabar sedikit semenjak dicanangkan “Gerakan berinfak setiap hari” kepada warganya, sumbangan akan terkumpul jauh lebih besar. Dan penulis yakin, dari 50warga tersebut, pasti akan ada yang mampu berinfak lebih besar dari Rp. 500 per hari. Karena ini, contoh simulasi ini, penulis mengajak kepada para kepala lingkungan, baik itu RT/RW/Kelurahan, untuk merencanakan kegiatan untuk kepentingan umum/umat, baik infrastruktur ataupun untuk sumbangan kaum yang memerlukan di lingkungan sekitar, buatlah program untuk satu tahun kedepan dengan menggalakkan program “berinfak setiap hari di tiap rumah warga” walau hanya “gopek” sehari. Niscaya, program untuk tahun depan akan lancar, ringan, tidak memberatkan, dan mendidik.
Contoh simulasi yang lain, misal anda seorang pemimpin dan pemilik suatu perusahaan yang memiliki karyawan 500 orang dengan setengahnya adalah karyawan “kecil” dan seperempat karyawan “menengah” nya dan sisanya karyawan “posisi tinggi”. Bila di kantor anda dilakukan gerakan berinfak setiap hari dengan cara disediakan kaleng seperti di atas, untuk karyawan “kecil” sehari Rp. 500 dan menengah Rp. 1000, serta karyawan tinggi Rp. 2000, serta ada sekitar 80% saja yang konsisten melakukannya, mari kita hitung. Dalam sebulan berarti akan terkumpul sebesar = [500 x 250 + 1000 x 125 + 2000 x 125] x 22hari kerja = Rp. 11.000.000 [80% nya = Rp. 8.800.000] dan dalam setahun akan terkumpul 132.000.000 [80% nya = Rp. 105.600.000]. Dan andaikan saja terdapat 10 perusahaan dengan perhitungan yang sama, melakukan hal yang sama, akan terkumpul sebesar 1.32MILIARD [80% nya = 1.056.000.000] Di atas 1 MILLIARD kan????!..
Apa tidak kecil mendapatkan uang sebesar itu dalam setahun!!???. Karena itu, untuk para pengusaha muslim indonesia, yang memiliki otoritas dan kebijakan penuh, berusahalah memulai untuk melakukannya, dengan tentu terlebihdahulu berkomunikasi dengan semua karyawan, apakah metoda ini bisa diterima untuk dilakukan atau tidak. Berikanlah penjelasan yang sejujur-jujurnya bahwa cara-cara seperti ini tiada lain untuk kepentingan ummat. Berbagai teknisnya silahkan dipikirkan dengan seadil-adilnya. Misal, teknis sederhananya apabila semua karyawan menerima metoda ini dengan lapang dada, dari setiap gajian, potonglah langsung suatu besaran yang disepakati dan dalam slip gaji tertulis, “alhamdulillah dan terima kasih anda telah berinfak sebesar Rp. 1000 x 22 = Rp. 22.000 untuk bulan ini, dan saldo infak anda telah terkumpul sebesar Rp…….dan total infak perusahaan telah terkumpul sebesar Rp………”

Simulasi lain di lingkungan sekolah adalah, pernah suatu ketika, di suatu sekolah, begitu sulit dan lamanya mengumpulkan sumbangan untuk pembangunan masjid sederhana di sekolah (karena memang belum ada masjid waktu itu). Sekolah tersebut memiliki organisasi Ikatan Alumni yang besar dan sering melakukan pertemuan tahunan di sekolah almamater pada waktu beberapa hari setelah lebaran idul fitri. Satu angkatan, rata-rata 40orang alumni, dan rentang alumni yang terlibat tidak dibatasi, sehingga dengan total angkatan yang kurang lebih 20angkatan. Misal saja dari total alumni 20 x 40 = 800 orang, yang berkecimpung konsisten 25% saja, jadi total nett 200orang saja. Dengan angkatan paling muda (rata-rata mahasiswa) misal 10orang, angkatan “agak” lama (sudah bekerja) 100orang, dan angkatan tua (sudah lebih mapan) 90orang. Misal saja angkatan muda dalam sehari dirumahnya atau tempat kost-nya menyisihkan Rp. 500 setiap hari, yang sudah bekerja misal Rp. 1.000, dan yang sudah mapan misal Rp. 2.000. Apabila dimulai sehari setelah Hari raya idul fitri di tahun ini misalnya, maka di tahun depan ketika berkumpul, akan terkumpul sebesar : [10 x 500 + 100 x 1000 + 90 x 2000] x 30 x 12 = Rp. 102,600,000. Belum lagi dengan sumbangan dari alumni atau pihak luar yang “berduit” banyak nyumbang lebih besar, Apakah di tahun depan tepatnya di hari raya idul fitri tahun depan, pada saat kumpul, apkah suatu masjid sederhana tidak bisa terbangun (lagi) dengan uang sebesar
RP. 102.000.000????!
Terus terang secara pribadi, beberapa umat kita yang berkeinginan untuk membangun masjid misalnya, dengan anggaran yang telah direncakanan sangat besar yang kadang-kadang tembus di atas 500jutaan atau bahkan lebih. Terkesan belum memiliki rencana yang matang, misal saja beberapa “terlalu” mengandalkan penggerakan “massa” dengan menyebar ke setiap pelosok untuk meminta sumbangan, dengan berbagai cara sehingga terlihat semacam “pertunjukkan” ketidakmampuan ummat islam secara keseluruhan untuk membuat satu masjid sekali pun. Diantaranya, penulis ketika melewati pantura dari Jakarta ke arah Cirebon (begitu juga sebaliknya), terdapat sekitar 6 titik penyempitan jalan “khusus” sehingga terkadang terhambat hanya dikarenakan beberapa pemuda turun ke jalan dengan cara menutup jalan satu lajur dan menyisakan satu jalur, itu pun terhalangi oleh bendera dan drum-drum, meminta sumbangan untuk membangun masjid. Dan terus terang, terkadang mereka terkesan dengan cara memaksa dengan cara “sedikit” pasang badan di lajur jalan yang terbuka tersebut sambil “mengekspresikan seperti pengemis”, menghalangi perjalanan dan kadang-kadang juga disertai sambil pegang-pegang kendaraan.
Terkesan “simulatif” benar memang perhitungan di atas, tapi itulah kekuatan dan kefaedahan infak!!. Selama umat islam bersatu, dan berjama’ah, saudara-saudara kita yang tidak mampu, akan terbantu. Selain itu penulis yakin, RP. 1.000 sehari, sangatlah kecil bila dibandingkan dengan 2x anda ke toilet umum, dan akan sangat lebih kecil lagi dibanding dengan sebungkus rokok sehari yang anda beli dan akan jauh lebih kecil lagi dengan makan siang anda di café dll.
Karena itulah, begitu besar dan dahsyatnya infak dan sodaqoh. Kembali kepada pertimbangan-pertimbangan penulis diatas, sebesar apapun infak/sodaqoh, bila kita kerjakan sedikit-sedikit tetapi dengan terus menerus, Insya Alloh akan menjadi kekuatan umat yang sangat besar, dan persoalan umat yang khususny di bidang perekonomian bisa terselesaikan. Penulis berkeyakinan, bahwa uang yang kita sisihkan tiap hari untuk infak/sodaqoh, tidak akan pernah berkurang rezeki kita, karena janji Alloh sudah pasti, akan menggantikan dengan yang lebih besar. Lebih besar dalam artian yang luas, bukan hanya rezeki/uang kita bertambah, akan tetapi bisa juga dalam bentuk yang lain, misal kita akan selalu terhindar dari malapetaka saja sudah merupakan rezeki yang tiada bandingannya.
Dan apabila kita semua serius menjalaninya dengan ikshlas, istiqomah dengan terus menerus, pada suatu periode tertentu, kita akan mampu untuk menyisihkan sebagian uang yang akan terus bertambah besarnya seiring dengan kemampuan kita. Misal tahun ini kita mampu hanya Rp. 500, di tahun depan insya Alloh Rp. 1000, dan ditahun depan lagi Rp. 2000, bahkan bisa jadi Rp. 5000 sehari. Bisa kita bayangkan, kalo setiap simulasi di atas, yang melakukannya mampu Rp. 5000 sehari, apakah tidak sedkit uang terkumpul untuk kepentingan umat??!
Berbicara mengenai pahala ber-infak atau sodaqoh atau zakat, biarlah bapak-bapak ustadz/ulama saja yang memberikan pencerahan, karena penulis memang bukan ahlinya di sini. Di sini, penulis hanya berusaha untuk mencoba mengeluarkan pendapat dan pemikiran penulis betapa kuat dan besarnya ummat islam apabila bersatu, juga termasuk “mimpi” penulis bahwa Negara Indonesia tercinta ini, berkat persatuan ummat islam seluruhnya dengan segala potensi yang tergali, akan terkenal di dunia merupakan negara yang makmur, dengan tidak terdapatnya ummat yang tertinggal atau miskin lagi hanya karena infak/sodaqoh, bahkan Negara Indonesia mampu memberikan kontribusi positif bagi negara lain yang memerlukan, berkat kekuatan ummat sendiri, termasuk kekuatan infak/sodaqoh/zakat.
Bagi yang memang masih terasa berat untuk melakukannya (dan itu pada mungkin umumnya), marilah mencoba untuk merenung kembali dan membuka mata.
Mengenai pembelajaran hal kebaikan untuk anak-anak kita, apakah kita memiliki “pilihan” untuk memajukan generasi kita dan umat kita atau tidak.?. Berusahakan untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak kita untuk belajar sejak dini untuk melakukan aktifitas infak setiap hari, walau dimulai dengan hanya dengan “cepek” sehari dari uang jajan mereka, insya Alloh, hikmah yang akan diperoleh dari kebiasaan tersebut, akan sangat jauh lebih besar dari yang kita perkirakanlah.
Wallohu bi’showab……
Penulis sebenarnya, ingin juga menulis disini, selain infak/sodaqoh juga hal yang mengenai khusus zakat mal / zakat profesi. Karena keterbasan ilmu, data dan sumber untuk membuat simulasi “kelas” Negara atau wilayah, jadi penulis belum bisa dan mampu memberikan deskripsi yang lebih jelas. Tetapi, pernah penulis diskusi dengan seorang teman yang pernah bekerja disuatu perusahaan yang membuat simulasi mengenai zakat mal dengan “volume Negara”, padahal teman tersebut bukan seorang muslim, dan mengatakan, “….andaikan SEMUA muslim di Indonesia melaksanakan zakat mal dan profesi dengan rutin, dan zakat tersebut dikelola dengan baik dan jujur serta tepat penggunaan, besaran yang diperoleh dan dikumpulkan bisa menutup semua hutang luar negeri negara dalam kurun waktu hitungan tahunan. Dan dia mengatakan, “Kok bisa besar dan kuat seperti itu ya….?” Dia sendiri heran. Oleh karena itu, di sini penulis belum bisa memberikan gambaran atau simulasi dengan baik. Ma’af….
Sebagai penutup, penulis juga mungkin sama dengan sebagian anda, kadang terasa berat untuk melakukannya, tetapi insya Alloh, kalo kita “memaksakan” diri untuk memulai, maka tidak akan terasa berat di kemudian hari, apalagi kalo anak-anak kita telah terdidik sejak dini untuk memulai dan melakukannya, mereka akan lebih merasa lebih ringan melaksanakannya setelah besar kelak. Yang terasa berat memang pada saat memulainya. Tetapi berusahalah…..
Ide pemikiran ini, penulis coba sampaikan khususnya untuk mengingatkan penulis dan keluarga penulis sendiri, dan pada umumnya untuk kaum muslimin semuanya. Jangan lagi ummat islam ketinggalan hanya dikarenakan keadaan ekonomi. Potensi umat yang mampu di negara ini, sedemikian besarnya apabila tergali dengan tepat.
Demikian ide pemikiran penulis, semoga bermanfa’at bagi penulis dan keluarga penulis, juga bermanfaat bagi kita semua ummat Islam Indonesia. Mohon ma’af kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, baik itu tutur bahasa, penyambungan kata-kata dalam kalimat yang kurang pas serta penyajian yang kurang apik.
Al Haqqu mirrobika, fala takun nana minal mumtarin, Kebenaran adalah milik Alloh, kekurangan dan kesalahan hanyalah kebodohan penulis semata.
Wallohu bishoab…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar